Warga Petobo Bertahan Tanpa Pekerjaan

122
Sejumlah wanita mencari barang berharga yang bisa diambil dari reruntuhan bangunan akibat likuefaksi di kelurahan Petobo, Sulawesi Tengah - Dok: CDN
PALU – Banyak warga Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, khUsusnya pekerja swasta, pengusaha dan petani, kehilangan pekerjaan akibat bencana gempa bumi disertai likuifaksi yang memorak-porandakan kelurahan tersebut pada 28 September 2018.
“Tidak sedikit harta benda hilang akibat bencana ini, banyak jadi pengangguran, termasuk saya,” kata Rudi, salah seorang warga setempat yang sebelumnya bekerja sebagi penjaga gudang kakao di Petobo, saat ditemui di tenda pengungsian, Rabu (7/11/2018).
Fatmawati, warga setempat yang sebelumnya sebagai pedagang kios barang campuran, mengatakan dirinya tidak lagi memiliki modal untuk membangun usahanya karena harta bendanya habis diterjang lumpur.
“Saya tidak bisa berbuat banyak, saya hanya bisa bersabar, kondisi kami tinggal di tenda pengungsian sambil menunggu hunian tetap dari pemerintah,” tururnya.
Gempa bumi bermagnitudo 7,4 pada Skala Richter mengguncang Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala, mengakibatkan tsunami dan likuifaksi pada 28 September 2018, bukan hanya menghancurkan harta benda, melainkan menelan lebih dari 2.000 jiwa serta memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Akibat bencana maha dahsyat itu, sebagian warga Petobo beralih profesi memungut puing-puing bangunan yang masih bernilai ekonomis, kemudian dijual dan hasilnya digunakan untuk bertahan hidup.
“Benar, banyak warga terpaksa mengambil barang-barang bekas di bawah rerutuhan bangunan seperti besi-besi bangunan, bahkan atap seng yang sudah berserakan di tanah dijual dengan harga Rp15 ribu hingga Rp25 libu per lembar,” kata Abd Naim, yang juga Ketua RT 1/RW 5 Kelurahan Petobo.
Kini, aktivitas warga di tenda pengungsian sangat terbatas, mereka sehari-harinya saling bahu membahu membangun tempat tinggal mereka yang bersifat sementara, meskipun pemerintah saat ini sedang membangun hunian sementara untuk para pengungsi.
“Dengan bahan material seadanya, sebagian warga sudah mendirikan tempat tinggal untuk jangka pendek, menunggu kepastian pembangunan hunian tetap dari pemerintah. Sebab, lokasi pengungsian ini gersang sehingga jika siang hari hawanya sangat panas, belum lagi sumber air bersih tidak ada, ” ungkap Naim. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...