1.890 Warga Sumbar Idap HIV/AIDS

Editor: Koko Triarko

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit/ Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengungkit kembali persoalan penyakit yang dapat merenggut nyawa, yakni HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome). Dari data yang dihimpun, sejauh ini ada 1.890 warga di Sumatra Barat yang terjangkit HIV/AIDS.

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengatakan penyakit HIV/AIDS di Sumbar berkembang memprihatinkan. Ada 1.890 orang terjangkit penyakit tersebut, yang 70 persen lebih disebabkan oleh perbuatan sesat, LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Ia menyebutkan,. dari keterangan sejumlah dokter, salah satu penyebab cukup banyaknya orang di Sumatra Barat yang terkena virus HIV/AIDS, bersumber dari berkembangnya LGBT. Penyakit dari LGBT itu, ditularkan melalui hubungan yang dilakukan para gay atau lesbi.

“Jadi, setelah pasangan gay itu berhubungan, salah satu dari mereka pada awalnya tidak ada terkena HIV/AIDS. Misalnya, Si A mengidap HIV/AIDS, sementara Si B tidak terkena HIV/AIDS, namun akibat dari mereka melakukan hubungan, si B pun terkena HIV/Aids. Cara berkembangnya, si B pun mencari pasangan lain, dan hingga terus-turusan berantai, dan LGBT seakan menjadi sumber HIV/AIDS,” katanya, Jumat (21/12/2018).

Untuk itu, Nasrul melihat perlu ada sebuah aturan hukum untuk penangkalan perkembangan dan mengobati para LGBT itu. Bisa jadi, perlu dibuat Peraturan Daerah (Perda), atau bahkan merevisi Perda Anti Maksiat yang telah ada.

Menurutnya, jika upaya yang dilakukan semacam rapat dan bentuk tim survei, akan sulit untuk menyelesaikan generasi di Sumbar dari pengaruh atau pun ancaman LGBT. Mengingat, jumlah LGBT di Sumatra Barat telah mencapai ribuan.

Sehubungan dengan adanya LGBT, pada tahun lalu pihaknya telah menegaskan, bahwa masyarakat yang terlibat LGBT harus angkat kaki dari Sumatra Barat, karena LGBT sangat bertentangan dengan agama Islam dan bertolak belakang dengan ABS-SBK.

“Saya sudah sering menggelar rapat bersama tim kesehatan, tokoh agama, dan pihak-pihak lainnya, untuk membahas persoalan penangkalan perkembangan LGBT di Sumbar,” tegasnya.

Bahkan untuk mengetahui persoalan sehingga mencuatnya LGBT, Pemprov Sumatra Barat turut membentuk sebuah tim survei, yang terdiri dari psikolog, dokter-dokter di sejumlah rumah sakit,  dan sejumlah tokoh agama. Hasil sementara yang didapatkan, ternyata LGBT telah berkembang hingga ribuan orang, yang terbanyak berada di Kota Padang.

Terkait jumlah LGBT di Sumatra Barat itu, Ketua Perhimpunan Konselor VCT HIV Sumatra Barat, Katherina Welong, juga mengatakan, informasi estimasi keberadaan lebih dari lima ribu Lelaki Seks Lelaki (LSL/Gay) di Sumatra Barat, bukan angka yang berlebihan, karena hampir sesuai dengan data LSL yang melakukan konseling pada konselor VCT HIV di Sumatra Barat.

“Yang melakukan pemetaan LSL itu KPA. Estimasinya ada 5.000, kalau kita sinkronkan dengan data yang dikonseling konselor di kabupaten/kota, jumlahnya memang mendekati,” ungkapnya.

Lihat juga...