200 Warga Sikka Terserang Malaria

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

169
Kepala Bidang kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dinas Kesehatan kabupaten Sikka,dr.Harlin Hutauruk.Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Penyakit malaria di kabupaten Sikka masih meningkat, dimana sebanyak 200 dari sebanyak 22.995 warga kabupaten Sikka yang diperiksa sejak bulan Januari sampai Oktober 2018 terserang penyakit malaria.

“Penyakit melaria di kabupaten Sikka memang masih tinggi meskipun kami selalu melakukan berbagai upaya pencegahan,” ujar dr. Harlin Hutauruk kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Jumat (7/12/2018).

Penyakit malaria, terang Harlin, biasanya meningkat sejak Januari hingga Februari karena musim hujan, sehingga banyak air tergenang. Yang paling banyak terjadi, di Puskesmas Paga dimana saat Januari saja dari 62 kasus, Paga menyumbang 41 kasus.

“Selain banyak genangan, pada saat musim hujan populasi nyamuk meningkat. Kalau satu orang sudah terkena penyakit malaria maka penyebarannya akan cepat sekali,” tuturnya.

Untuk mengatasinya, kata Harlin, dinas Kesehatan turun ke Paga dan beberapa lokasi yang kasus malarianya meningkat dan menggerakkan masyarakat untuk melakukan pemberantasan.

“Kami juga melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai cara memerangi penyakit malaria. Membagikan kelambu kepada masyarakat agar bisa mencegah gigitan nyamuk,” tuturnya.

Selain itu jelas Harlin, saat turun ke masyarakat pihaknya menemukan banyak pakaian yang basah dan lembab dijemur di dalam rumah. Ini menjadi tempat peristirahatan nyamuk apalagi kondisi rumah dalam keadaan gelap.

“Masyarakat tidak paham bahwa menjemur pakaian di dalam rumah bisa meyebabkan terjadinya penyakit malaria. Selain itu masih banyak tempat air tergenang tidak dibuang seperti kaleng bekas dan lainnya,” ungkapnya.

Maria Bernadina Sada Nenu, MPH kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka kepada Cendana News menyebutkan, malaria merupakan penyakit berbasis lingkungan yang menempati peringkat pertama kabupaten Sikka meliputi disusul ISPA, TBC, Kaki Gajah serta HIV dan AIDS.

“Gerakan pemberantasan penyakit malaria sudah dilakukan sejak 2014 lalu secara besar-besaran dengan pembagian kelambu, membuat muatan lokal untuk diajarkan di sekolah dasar di semua wilayah kabupaten Sikka serta membentuk Laskar Jentik untuk memantau jentik nyamuk,” terangnya.

“Gebrakan secara besar-besaran ini membuat penyakit malaria mengalami penurunan drastis namun langkah positif ini perlu dipertahankan oleh masyarakat,” harapnya.

Pemerintah daerah kabupaten Sikka, ujar Maria, berhasil menurunkan angka kesakitan malaria dari 76 persen di tahun 2013 menjadi 1,03 persen di tahun 2016 dan ini merupakan prestasi yang luar biasa.

Penurunan angka ini dilakukan berkat Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria) yang dilakukan sejak tahun 2013 hingga saat ini yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti dinas Kesehatan Sikka, LSM Yaspem, pihak sekolah dan juga gereja.

Baca Juga
Lihat juga...