2018, Kekerasan Perempuan dan Anak di Kulon Progo, 120 Kasus

KULON PROGO  – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB)  Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyayangkan masih banyak masyarakat yang enggan melaporkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kasus kekerasan di Kulon Progo yang dilaporkan masyarakat kepada DPMDPPKB pada 2017 sebanyak 129 kasus, dan 2018 dari Januari sampai November 120 kasus.

Kepala Sub-Pembinaan Ketahanan Keluarga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DPMDPPKB) Kulon Progo, Woro Kandini, di Kulon Progo, Sabtu mengatakan, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak sangat tinggi karena lemahnya nilai tawar perempuan di masyarakat.

“Kasus ini hanya yang dilaporkan kepada DPMDPPKB. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sangat tinggi, hanya mereka enggan melaporkannya karena dianggap tabu dan mencoreng nama baik keluarga,” kata Woro.

Ia mengatakan, berdasarkan jumlah penduduk, maka angka kekerasan perempuan dan anak di Kulon Progo tertinggi dibandingkan empat kabupaten/kota di DIY. Hal ini perlu adanya solusi dan komitmen kuat dari pemerintah kabupaten (pemkab).

Lihat juga...