Akibat Banjir, Dua Jembatan Kayu di PPU Rusak

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

170

PENAJAM — Akibat bencana banjir yang terjadi pada akhir pekan kemarin (1/12), dua jembatan mengalami kerusakan di dua Kecamatan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Kelurahan Riko. 

Kasubbid Logistik dan Peralatan BPBD PPU Nurlaila. Foto: Ferry Cahyanti

Akibat terjadinya kerusakan 30 Kepala Keluarga terisolir dan saat ini upaya dilakukan melakukan perbaikan agar jembatan segera dapat dilewati.

“Jembatan kayu itu alami kerusakan karena terjangan banjir di RT 2 dan RT 4, tapi yang putus di RT 4 dan satu jembatan hanya alami penurunan,” terang Kasubid Logistik dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah PPU, Nurlaila, Selasa (4/12/2018).

Nurlaila menjelaskan, saat ini telah dilakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum agar jembatan kayu yang alami kerusakan untuk segera diperbaiki.

“Dari koordinasi maka Dinas Pekerjaan Umum segera minta bantuan anggaran perbaikan jembatan ke Pemprov Kaltim,” sebutnya.

Menurut Nurlaila, akibat terputusnya jembatan tersebut warga terkendala dalam pengangkutan hasil perkebunan. Mengingat jembatan itu salah satu akses ke perkebunan warga setempat.

“Warga juga terkendala dengan pengangkutan hasil perkebunan kalau jembatan ini masih rusak,” tandasnya.

Sebelumnya, ratusan rumah di empat wilayah Kecamatan Sepaku terendam banjir pada akhir pekan (1/12/2018). Selain empat wilayah tersebut banjir juga melanda dua wilayah di kecamatan Penajam.

Keenam wilayah yang terendam banjir yaitu desa Bukit Subur dan Kelurahan Riko Kecamatan Penajam, desa Sukaraja, Bukit Raya, Bumi Harapan dan Kelurahan Sepakau di Kecamatan Sepaku.

Nurlaila mengatakan hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak dinihari hingga pagi pada akhir pekan (1/12) kemarin menjadi penyebab terendamnya permukiman warga. Hal itu diperparah dengan adanya penyempitan daerah aliran sungai atau DAS yang mengakibatkan tidak tertampungnya volume air.

“Kini kondisinya sudah berangsur surut dan jembatan yang rusak juga segera diperbaiki dari hasil koordinasi yang dilakukan,” imbuh Nurlaila.

Untuk diketahui, banjir yang terjadi pada lima wilayah di dua kecamatan tersebut merupakan yang terparah di  2018 ini. Namun demikian, dari ratusan rumah warga terdampak banjir tidak sampai menyebabkan korban jiwa serta pengungsian warga terdampak.

Baca Juga
Lihat juga...