Aksi Demonstrasi Terkait Kesulitan Ekonomi Kembali Meletus di Sudan

Ilustrasi - Aksi demontrasi [pixabay]

KHARTOUM, SUDAN — Demonstrasi digelar pada Senin (24/12) di Provinsi Gezira, Sudan, sehubungan dengan kondisi ekonomi yang memburuk di negeri tersebut.

Beberapa saksi mata mengatakan kepada wartawan Kantor Berita Anadolu protes meletus di Kota Besar Al-Manaqil dan Rufaa gara-gara kenaikan harga dan kurangnya komoditas dasar.

Polisi menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan demonstran dan menangkap sebagian dari mereka.

Kantor berita resmi Sudan, SUNA, melaporkan Presiden Omar Al-bashir direncanakan mengunjungi Gezira pada Selasa untuk mengumumkan “serangkaian proyek baru pembangunan”.

Sementara itu, dokter yang bekerja di 28 rumah sakit di seluruh sembilan negara bagian Sudan, termasuk di Ibu Kotanya, Khartoum, berencana melancarkan pemogokan untuk mendukung demonstrasi yang berlangsung di negeri tersebut.

Demonstrasi rusuh meletus pada Rabu lalu di Kota Atbara dan Port Sudan.

Dalam dua hari, protes digelar di kota besar lain, termasuk Er-Rahad di Sudan Utara, Kota Kecil Berber dan El-Gadarif di Sudan Selatan serta El-Obeid di Sudang Timur.

Meskipun perkiraan resmi mengatakan jumlah korban jiwa akibat protes itu mencapai delapan orang, kelompok oposisi menyatakan sedikitnya 22 orang telah tewas dalam kerusuhan, demikian laporan Kantor Berita Anadolu –yang dipantau di Jakarta, Selasa pagi (25/12/2018).

Pada Ahad (23/12), protes dilancarkan di Omdurman, kota kembaran Khartoum, dan di Negara Bagian Kordofan Selatan serta Utara.

Saksi mata mengatakan polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan pendukung tim sepak bola yang berpawai di pusat Kota Khartoum setelah satu pertandingan sepak bola di tengah-tengah teriakan yang menentang Al-Bashir, yang telah berkuasa sejak 1989.

Pemerintah Sudan telah mengumumkan keadaan darurat dan larangan orang keluar rumah di sejumlah provinsi sehubungan dengan protes itu, sementara para pejabat pemerintah menuduh Israel bersekongkol dengan kelompok pemberontak guna menyulut kerusuhan di negeri tersebut.

Sudan, negara dengan 40 juta warga, telah berjuang untuk pulih dari kerugian dua-pertiga hasil minyaknya, sumber utama penghasilan luar negerinya, ketika Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011. [Ant]

Lihat juga...