Aksi Penyerangan Politisi Oposisi, Diprotes Ribuan Warga Beograd

Wilayah Serbia - Istimewa

BEOGRAD – Ribuan orang berunjuk rasa dengan damai di pusat kota Beograd, Serbia, memprotes serangan terhadap seorang politikus oposisi. Masa pendemo menuntut perubahan kebijakan Presiden Aleksandar Vucic dan Partai Progresif Serbia, yang berkuasa.

Dengan slogan, Hentikan kemeja berdarah, para pengunjuk rasa berteriak-teriak di jalanan. Masa bergerak melalui pusat kota, dan mengutuk serangan terhadap Borko Stefanovic, pemimpin partai kecil kiri Serbia. Stefanovic, diserang oleh sekelompok pria berpakaian hitam pada 23 November di Kruevac, kota di bagian selatan Serbia. Akibatnya, Dia menderita luka-luka karena dipukuli dengan tongkat besi.

Vucic mengatakan, para penyerang Stefanovic ditangkap beberapa saat, setelah penyerangan. Sementara, tokoh-tokoh oposisi mengatakan, partai Vucic terlibat. Namun tudingan tersebut dibantah keras oleh para pemimpin Progresif.

“Kita harus melawan dengan teriakan terhadap rezim yang menjijikkan dan licin,” kata Branislav Trifunovic, seorang aktor dan pemimpin protes.

Para aktivis oposisi mengatakan, Vucic seorang otokrat, dan menyebut Partai Progresif Serbia korup. Peringkat Vucic telah turun, sejak ia meraih suara mayoritas dalam pemilihan presiden di 2016 silam. Tetapi, ia masih tetap sebagai pemimpin politik paling populer di Serbia. Koalisinya yang berkuasa memiliki suara mayoritas dengan menguasai 160 dari 250 kursi di parlemen.

“Korupsi, kekerasan, pengekangan kebebasan pers, mereka (partai Progresif) melakukan semuanya itu dan Vucic adalah rajanya,” tandas Radovan Peric (49), seorang mekanik dari Beograd.

Unjuk rasa tersebut, diserukan oleh mantan Walikota Beograd Dragan Djilas, pemimpin Aliansi Serbia, sebuah kelompok heterogen beranggota 30 partai. Aksi tersebut diklaim sebagai bentuk perlawanan warga negara terhadap pemerintahan otoriter. Protes-protes oleh oposisi, relatif jarang dilakukan di Serbia, sejak pergolakan rakyat berhasil menggulingkan orang kuat Slobodan Milosevic di 2000.

Vucic, tokoh nasionalis dalam kejatuhan bekas Yugoslavia di 1990-an tersebut, menganut nilai-nilai Eropa dan menetapkan keanggotaan Serbia di Uni Eropa sebagai tujuan strategis negaranya. Dia juga memelihara hubungan erat dengan Rusia dan Cina. (Ant)

Lihat juga...