Alokasi Dibatasi Petani Jagung Lamsel Beli Tambahan Pupuk Nonsubsidi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sejumlah petani jagung di desa Sidoluhur, kecamatan Ketapang Lampung Selatan memilih membeli pupuk nonsubsidi untuk mencukupi kebutuhan pada proses pemupukan tahap pertama dan kedua.

Herman(38), salah satu petani jagung menyebutkan, penambahan tersebut karena alokasi dibatasi untuk setiap petani yang hanya mendapatkan sebanyak empat ton per hektare. Sementara yang memiliki lahan lebih terpaksa mencari tambahan dari nonsubsidi.

“Sejumlah penanam jagung yang ikut poktan bisa membeli pupuk bersubsidi, selanjutnya kalau kurang secara mandiri membeli tambahan nonsubsidi,” terangnya saat ditemui Cendana News, Senin (31/12/2018).

Herman menyebutkan, pada pemupukan tahap pertama ia membutuhkan sekitar dua ton gabungan pupuk Urea, NPK dan Phonska. Pada pemupukan tahap kedua kebutuhan yang lebih banyak sekitar tiga ton diperoleh dengan membeli dari kios pertanian untuk jenis nonsubsidi.

Harga bersubsidi dan nonsubsidi memiliki selisih per saknya. Pupuk bersubsidi jenis urea dibeli dengan harga Rp115.000 untuk ukuran 50 kilogram atau satu sak. NPK bersubsidi seharga Rp130.000 per sak dan Phonska Rp120.000 persak. Pupuk organik bersubsidi dibeli dengan harga Rp100.000 dan suplemen organik cair untuk perangsang pertumbuhan seharga Rp80.000 berisi 10 liter.

Pupuk
Usman, warga desa Sidoluhur memperlihatkan tanaman jagung usia tiga pekan yang memasuki masa pemupukan tahap kedua. Foto: Henk Widi
Pupuk dengan jenis yang sama nonsubsidi diakui Herman dibeli dengan harga lebih tinggi. Selisih harga nonsubsidi di antaranya berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 per sak.

“Semua yang saya beli masih berutang dengan sistem bayar setengah nanti sisanya dibayar saat panen, penebusan melalui kelompok sementara ditalangin oleh bos jagung,” beber Herman.

Salah satu petani jagung lainnya di Ketapang, Jusman (30) menyebut alokasi kebutuhan pupuk subsidi cukup tersedia. Distribusi ke sejumlah poktan bahkan cukup lancar dengan sistem pembayaran online melalui bendahara poktan.

Meski demikian karena sejumlah petani memiliki luasan lahan berbeda kebutuhan menyesuaikan. Mengatasi kondisi tersebut sejumlah petani memilih membeli nonsubsidi meski dengan kredit.

“Kredit pupuk atau utang sudah jamak bagi petani jagung dibayarkan saat sudah panen atau dikenal dengan yarnen, sebab petani modalnya minim,” beber Jusman.

Optimisme petani jagung diakui Jusman karena pada masa panen sebelumnya harga jagung cukup menjanjikan. Sempat bertengger pada harga Rp2.900 per kilogram harga jagung sudah membaik pada angka Rp3.500 per kilogram.

Sejumlah petani jagung  rela mengubah lahan tanaman pisang dan kakao untuk dirombak menjadi lahan jagung. Meski modal yang digunakan mulai bibit, obat obatan hingga pupuk diperoleh dengan sistem berutang.

Lihat juga...