Alunan Sape di TMII Obati Rindu Kampung Halaman Suku Dayak

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kalimantan Timur memiliki ragam alat musik tradisional. Salah satunya, Sape. Suara alat musik berbahan kayu ini sangat merdu terdengar, manakala jemari tangan Hamdani, dengan pakaian khas Dayak memetik Sape dengan lembutnya.

Hamdani adalah staf Anjungan Kalimantan Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang menghibur pengunjung di lantai bawah replika Rumah Adat Limas di anjungan tersebut, pada Kamis (27/12/2018).

Dalam Pekan Desember, Natal dan Tahun Baru 2019, yang digelar oleh Taman Mini Indonesia Indah (TMII),  Anjungan Kalimantan Timur tampil memeriahkan dengan sajian musik tradisional Sape, ini.

Alunan merdu Sape terdengar menggetarkan hati, membuat pengunjung terpukau. Rindu kampung halaman pun terobati. “Saya ini asli suku Dayak Kayan, Kalimantan Timur. Dengar petikan Sape, rindu saya pada orang tua terobati,” kata Nilam, kepada Cendana News, Kamis (27/12/2018).

Ia mengaku, saat di kampungnya suka berlatih alat musik ini, dan pernah tampil di acara upacara adat bersama teman-temannya. Namun sejak tinggal di Jakarta, kebiasaan bermusik itu ditinggalkan.

“Paling kalau kangen kampung, ya jalan-jalan ke TMII,” ujarnya.

Hamdani, pemain Sape, mengajak pengunjung untuk memainkan alat musik tradisional ini. “Cara bermusik Sape ini mudah, yakni dipetik senarnya, seperti main gitar,” kata Dani, demikian sapaannya.

Sekilas, Sape ini memang mirip gitar. Cara memainkannya juga dipetik. Hanya saja, jelas dia, saat memainkan melodi Sape, jari-jari tangan hanya pada satu senar yang sama, bergeser ke atas dan bawah.

“Kalau bermain gitar, satu tangan digunakan untuk mengatur nada, dan satu tangan lagi untuk memetik. Sedangkan bermain Sape, kedua tangan digunakan untuk memetik senarnya,” jelasnya.

Alat musik Sape khas suku Dayak ini sebutan lainnya adalah Sampek, yang berarti memetik dengan jari. Alat musik ini tidak memiliki tangga nada baku seperti gitar. Yang diperlukan saat memainkan musik ini adalah perasaan dari pemainnya, bagaimana mengekspresikan kegembiraan.

“Bermusik Sape ini mengolah perasaan. Tidak ada tangga nadanya, tapi dengan mengolah rasa mampu ciptakan petikan dawai yang merdu,” ujar pria 32 tahun, tersebut.

Hamdani mengaku, setiap tahun baik itu dalam pekan Lebaran, HUT TMII, Pekan Desember, ia selalu menghibur pengunjung anjungan, dengan bermain musik tradisional khas Kaltim.

“Kami setiap tahun selalu memeriahkan acara TMII, sekaligus memperkenalkan budaya Kaltim. Karena alat musik tradisional kan tidak hanya gendang, tapi Sape, ini. Generasi muda harus tahu,” ujarnya.

Alat musik Sape biasanya dimainkan pada saat acara pesta rakyat dan ritual. Seperti syukuran hasil panen padi dan pengantaran jenazah ke tempat terakhir.

Sape juga digunakan untuk mengiringi pesta kesenian khas suku Dayak, seperti tari Gong atau tari Kencet Ledo. Alat musik ini biasanya, dimainkan minimal satu orang, bisa dua hingga tiga orang.

Dani menjelaskan, Sape terdapat di Dayak Kenyah dan Kayan. Alat musik ini tampak mirip perahu, dengan bentuk tubuh yang panjang dan leher yang pendek. Sape ini memiliki dawai antara empat sampai enam. Tapi, ada pula yang berdawai dua.

Sape ini berbahan kayu pilihan. Seperti kayu pelaik, kayu lempung, kayu marang, kayu nangka, belian dan lainnya. Untuk menambah keindahan, Sape bagian ujungnya dihiasi ukiran-ukiran khas suku Dayak.

“Jenis kayu yang kuat mempengaruhi kualitas suara Sape. Semakin keras dan banyak urat daging kayunya. Maka, suara yang dihasilkannya lebih bagus,” katanya.

Ada pun cara membuat Sape, jelas dia, bagian  permukaannya diratakan. Bagian belakang diberi lubang memanjang, tapi  tidak tembus ke permukaan.

Untuk mencari suara yang bagus, tingkat tebal tipis tepi dan permukaan Sape harus sama. Hal ini bertujuan, agar suara Sape bisa bergetar merata. Sehingga menghasilkan suara yang cukup lama dan nyaring ketika dipetik pemainnya.

Lihat juga...