Anjloknya Harga TBS Sawit dan Banjir Resahkan Petani di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dampak dari banjir akibat luapan sungai Way Pisang yang mengenangi lahan dikeluhkan petani di Lampung Selatan.

Suparmin (60), salah satu pemilik kebun sawit seluas tiga hektare menyebutkan,  banjir setinggi dua meter sempat merendam satu hektare lahannya. Imbasnya proses pemanenan lebih sulit dan sebagian buah membusuk karena terlalu banyak pasokan air.

Suparmin menyebutkan harga TBS akhir tahun turun signifikan. Pada tanaman sawit usia delapan tahun, dari Rp900 turun menjadi Rp700 per kilogram. Kondisi serupa terjadi pada tanaman usia tiga tahun dengan harga semula Rp800 anjlok menjadi Rp600 per kilogram. Harga disebutnya berpotensi lebih rendah menyesuaikan harga di pasar dunia terutama permintaan crude palm oil (CPO).

“Setiap pengepul memang membeli TBS sawit dengan harga berbeda per kilogramnya namun selisih hanya sedikit rata rata tidak lebih dari angka seribu rupiah, ditambah lahan terendam banjir membuat petani sawit semakin merugi,” terang Suparmin saat ditemui Cendana News, Senin (10/12/2018)

Selain hujan berimbas banjir, produksi buah juga memasuki panen pucuk atau panen penyelang yang membuat kuantitas buah lebih sedikit pada setiap tandan. Pada kondisi normal ia bisa memanen sekitar 8 ton, namun saat ia hanya mendapatkan 4 ton TBS.

Penurunan harga TBS sawit di wilayah Lampung juga diakui oleh Wandi (56) salah satu pengepul. Laki laki yang membawa kendaraan truk colt diesel dengan tiga pekerja tersebut mengaku anjloknya harga berkaitan dengan permintaan CPO di pasar dunia.

Ia bahkan menyebut dampak perang dagang antara AS dan China secara langsung ikut berdampak pada petani sawit di Indonesia. Harga berkisar Rp600 hingga Rp800 di level petani sudah diperhitungkan dengan biaya operasional.

Harga TBS
Suparmin, salah satu pemilik kebun kelapa sawit di Desa Sukaraja Kecamatan Palas menyiapkan tandan buah segar sebelum ditimbang. Foto: Henk Widi

Wandi memastikan di pabrik pengolahan sawit harga yang ditetapkan juga masih di bawah Rp1.000 perkilogram. Harga Rp700 per kilogram memperhitungkan upah tenaga kerja dengan asumsi per orang diberi upah Rp50 per kilogram. Selain itu biaya pengangkutan sawit sudah dikalkulasikan membuat harga masih bertengger di bawah Rp1.000.

“Kalau berhenti total tidak panen justru petani dan pengepul rugi besar, namun dengan kerugian kecil petani dan pengepul masih mendapatkan hasil,” terang Wandi.

Wandi yang membeli TBS sawit dari petani berkeliling dari Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Selatan. Pada masa buah pucuk TBS sawit yang dihasilkan juga lebih sedikit.

Sebelumnya dalam satu hektare kebun ia kerap bisa membeli sekitar 1 ton TBS sawit, namun kini hanya berkisar 6 kuintal. Sejumlah petani yang lahannya terendam bahkan membutuhkan biaya ekstra untuk proses pemanenan.

Lihat juga...