Anomali Cuaca, Pengaruhi Iklim Indonesia di Sepanjang 2018

Editor: Mahadeva

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi,  Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Drs. Herizal M. Si - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Banyak anomali cuaca, yang terjadi di sepanjang tahun ini, dan mempengaruhi kondisi iklim di Indonesia. Salah satu yang terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah fenomena El Nino.

“Salah satunya adalah El Nino. Yang indikasinya muncul di sepanjang tahun, tapi baru terjadi di Oktober 2018,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Drs. Herizal M. Si, Senin (31/12/2018).

Indikator El Nino, adalah angin dan suhu permukaan Laut Pasifik. “Dalam memprediksi, BMKG Klimatologi selalu mendasarkan pada semua indikasi yang harusnya ada. Maka, jika ada anomali yang menyebabkan indikasinya tidak muncul, maka kejadiannya akan bergeser dari prasarana yang kita berikan,” urai Herizal.

Misalnya, prakiraan awal musim hujan, yang diprediksi oleh BMKG Klimatologi, akan terjadi sekira Oktober. Namun, karena angin pasatnya tidak muncul, maka musim hujan baru mulai terlihat di pertengahan November 2018. Atau pernyataan yang menyatakan, musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan 2016 dan 2017. Hal itu menjadi benar, tapi, jika bandingkan dengan 2015, maka musim kemarau pada tahun itu jauh lebih kering dari tahun ini.  Hal itu dikarenakan, dari catatan Herizal, El Nino terjadi secara kuat.

Untuk menentukan, apakah musim merupakan musim hujan atau musim kemarau, dengan melihat curah hujan yang terjadi dalam satu dasarian atau perhitungan 10 hari. Jika dalam kurun satu dasarian, curah hujannya dibawah 50 mm, dan berlanjut hingga dua dasarian berikutnya, atau dalam tiga dasarian totalnya dibawah 150 mm, maka artinya musim kemarau.  “Sebaliknya, jika curah hujan diatas 50 mm, maka akan disebut musim hujan,” ucap Herizal.

Terkait area Indonesia, Herizal menyebut ada tiga wilayah tipe hujan. Tipe Equatorial, yang memiliki dua puncak musim hujan dalam setahun. Kemudian tipde Moonsonal, yang memiliki satu puncak musim hujan dalam setahun dan lokal,  seperti terjadi di area Maluku.  “Jika kita menyebut musim hujan, kita harus membedakannya pada tiga wilayah tipe hujan, dan wilayah yang tidak termasuk di tiga wilayah tersebut, misalnya pesisir barat Sumatera. Karena itu BMKG Klimatologi selalu memberikan prakiraan sesuai wilayahnya masing-masing. Karena memang berbeda-beda,” jelas Herizal.

Anomali lain, yang juga terjadi di 2018 adalah, Fenomena Fujiwara. Dimana uap air yang ada di suatu daerah, tertarik ke wilayah lain, sehingga daerah yang seharusnya mengalami musim hujan, akhirnya tidak turun hujan.  “Seperti beberapa hari kemarin, yang dalam kurun waktu lebih dari seminggu tidak ada hujan. Ini bukan berarti musim hujannya sudah selesai. Hanya uap airnya sedang tertarik ke wilayah lain, sebagai akibat dari aktivitas siklon tropis yang terjadi di utara dan selatan Indonesia,” papar Herizal.

Walaupun akhir musim hujan tidak berlangsung dan berakhir secara bersamaan di Indonesia, Herizal menyebut, data April adalah masa transisi. Dan pada Mei serta Juni, beberapa daerah sudah memasuki musim kemarau.  Perbedaan ini disebabkan karena adanya 342 zona musim di seluruh Indonesia.  “Memang tergantung pada wilayah tipe hujan.  Dan juga tergantung pada topografi wilayah. Pada daerah pegunungan, biasanya mulai duluan, dan selesainya akan belakangan. Sementara pada daerah pantai, seperti Rembang, masuk musim hujannya terakhir tapi berhentinya duluan,” pungkas Herizal.

Lihat juga...