Arief Yahya: Pembatalan Kunjungan dari Luar Negeri Sekitar 70 Persen

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Menteri Pariwisata Arief Yahya. Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA — Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebutkan, tidak tercapainya target wisatawan mancanegara disebabkan bencana alam, musibah pesawat dan polemik.

“Akibat dari tiga hal ini terjadi pembatalan kunjungan dari pihak luar negeri itu sekitar 70 persen,” ujar Arief di Jakarta, Kamis malam (20/12/2018).

Menurutnya, meski target 17 juta kunjungan tidak tercapai, namun untuk target devisa 17,6 miliar US Dollar tetap tercapai.

“Perhitungan devisa ini didapat dari perkalian jumlah Wisman 16 juta dengan pengeluaran rata-rata kunjungan 1.100 US Dollar,” kata Arif Yahya.

Lebih lanjut disebutkan, untuk mengantisipasi pengaruh bencana pada target di bidang pariwisata di tahun selanjutnya, pihaknya sudah mempersiapkan tim perencanaan mitigasi. Yaitu suatu tim yang akan mengatasi efek dari bencana.

“Bencana di sini termasuk di dalamnya adalah bencana alam bencana keamanan dan bencana kegagalan teknologi semuanya sudah dibakukan dan dimodifikasi sesuai dengan karakteristik Indonesia,” kata Arief.

Arief menekankan bahwa semakin cepat recovery suatu bencana terjadi, semakin bagus efeknya pada pariwisata.

“Intinya kita siap setiap ada bencana yang terjadi,” tegasnya di depan awak media.

Sementara itu, untuk Wisatawan Nusantara (wisnus), Arif menyebutkan target tahun ini yaitu 270 juta orang sudah tercapai pada tahun 2017 sebanyak 270.882.003. Sedangkan target 2019 mendatang yaitu 275 wisnus, kemungkinan besar akan tercapai pada akhir tahun ini.

Staf Komunikasi Publik Guntur Sakti menjelaskan, selama ini Kemenpar hanya berfokus pada ekosistem pariwisatanya saja jika terjadi suatu bencana.

Upaya baru yang akan dikembangkan dalam program perencanaan mitigasi, mulai tahun 2019, adalah faktor iklim pemberitaan ramah wisata.

“Ini sedang kita tuntaskan dengan bekerja sama dengan dewan pers dan organisasi media, yang akan diwujudkan dalam satu buku panduan. Yang rencananya akan diserahkan ke pak menteri bertepatan dengan Hari Pers Nasional,” ucap Guntur.

Guntur menjabarkan bahwa pemberitaan ramah wisata ini merujuk pada negara-negara yang juga menjadi supermarket bencana seperti kondisi Indonesia.

“Seperti di Thailand. Di sana pemberitaan bencana boleh-boleh saja. Sepanjang itu merupakan realita dan ada dateline-nya. Harus sekian hari. Kalau lebih, akan berpotensi akan mengganggu hal lain,” urainya.

Contoh lainnya, adalah Jepang. Dimana pemberitaan bencana di Jepang tidak pernah mendramatisir bencana maupun korbannya. Pemberitaan sifatnya mengekspos manufakturing hope.

“Yang disorot itu adalah orang-orang yang saling tolong menolong atau orang yang sedang berdoa. Sehingga beritanya lebih humanis, yang akan membentuk jurnalistik yang ramah wisata,” kata Guntur.

Lihat juga...