Arifin dan Tika Sukses Berbisnis Menghias Hantaran Pernikahan

Editor: Mahadeva WS

577

LAMPUNG – Kreativitas, jika ditekuni menjadi usaha, bisa menjadi salah satu sumber penghasilan. Semangat tersebutlah, yang mendorong pasangan suami istri Ahmad Zaenal Arifin (25) dan Lailatul Maghfiroh (22) menekuni usaha menghias seserahan dan mahar pernikahan.

Usaha yang dilakukan di rumahnya, di Desa Wai Sidomukti, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, sudah berlangsung sejak satu tahun terakhir. Meski masih baru, pesanan sudah berdatangan dari sejumlah wilayah di Lampung.

Arifin, demikian Dia akrab disapa, mengisahkan, ide awal memulai bisnis tersebut muncul sebelum menikah. Saat akan mempersunting Lailatul Maghfiroh, yang kini menjadi istrinya, Dia ingin memberikan mahar dan seserahan yang istimewa. Terampil dalam pembuatan kerajinan tangan, membuatnya membuat mahar, hantaran dan seserahan untuk pernikahannya secara mandiri. Seusai menikah, kekompakan suami istri tersebut berlanjut, dengan melanjutkan ide membuat usaha menghias mahar, hantaran dan seserahan.

Dari membuatkan satu paket hantaran, hasil karya Arifin ternyata cukup diminati. Hal itu mendorongnya, mencoba berkreasi mengikuti trend yang berkembang. Kini hasil karyanya, mulai dikenalkan di jejaring sosial Facebook, Instagram dan melalui aplikasi perpesanan WhatsApp. “Keinginan calon pengantin sebelum menikah memberikan mahar, seserahan yang istimewa, dan dihias semenarik mungkin. Biasanya dibahas oleh pasangan, sehingga kami hanya membuat berdasarkan pesanan,” ujar Arifin saat ditemui Cendana News disela sela proses pembuatan mahar pesanan salah satu konsumen, Selasa (4/12/2018).

Miniatur masjid ssbagai salah satu kreasi mahar yang dibuat oleh Ahmad Zaenal Arifin dan Lailatul Maghfiroh – Foto Henk Widi

Bermodalkan keinginan, Arifin memulai membuat mahar dari uang koin. Uang tersebut diaplikasikan dalam miniatur masjid, untuk mempercantik mahar. Pembuatan juga dilakukan dengan nominal jumlah uang yang memiliki jumlah angka menyimbolkan hari pernikahan pengantin yang memesan mahar. Sejumlah produk lain yang dibuat diantaranya miniatur boneka mahar, mahar kaligrafi, hantaran pernikahan, kaligrafi hias dinding, kaligrafi ulang tahun, bingkai tiga dimensi, bingkai foto dan cermin serta produk lain.

Arifin menyebut, untuk membuat kreasi mahar, hantaran dan seserahan, bahan utamanya seperti, kaca untuk bingkai kotak, kaca pigura, monte-monte, pita, lem, gunting, pemotong (cutter), pewarna emas, uang kertas mainan, koin, selotif serta peralatan lain. Proses pengerjaan dilakukan Arifin dan istrinya secara langsung. Ketekunan dan kreativitas, menjadi kunci untuk menghasilkan karya kreasi yang unik, istimewa dan disukai konsumen.

Tradisi pernikahan di Indonesia, termasuk yang berkembang di Lampung, masih memiliki prospek bagi usaha yang diberi nama Rumah Mahar dan Hantaran miliknya. Tren kekinian, mendorong untuk membuat hiasan yang semakin menarik. “Sejumlah produk yang kami buat, umumnya disesuaikan dengan selera konsumen, ada yang mudah hingga rumit sesuai kesepakatan dan anggaran,” terang Arifin.

Kesederhanaan atau kemewahan hantaran, mahar dan seserahan, tergantung anggaran yang dimiliki calon pengantin. Meski demikian, kreasi semaksimal mungkin diberikan, demi kepuasan konsumen. Hal itu menjadi kunci yang membuat usaha tersebut terus berjalan. Wadah hantaran, isi hantaran, hiasan serta mahar, dan seserahan, menyesuaikan konsep pernikahan. Sejumlah karya yang sudah dibuat diunggah di akun media sosial Rumah Mahar Atika. Keberadaanya bisa menjadi contoh bagi konsumen yang ingin memesan.

Meski bisnis kreativ yang ditekuni identik dengan pernikahan, namun Arifin menyebut, pemesan kini banyak yang memesan untuk berbagai acara. Kaligrafi, miniatur masjid, bingkai tiga dimensi, kerap dipesan konsumen untuk hadiah ulang tahun, wisuda serta acara penting lain. Ditekuni selama kurun waktu setahun, sejumlah produk yang kerap dipesan diantaranya mahar berbentuk burung merpati. Mahar yang dibentuk dalam sebuah pigura tersebut, dapat dibuat menggunakan uang kertas mainan atau uang asli. Harga yang dipatok cukup terjangkau, berkisar Rp300.000.

Sementara karya seperti miniatur masjid serta aksesoris lain, yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri, dipatok dari harga ratusan ribu hingga Rp1juta sesuai kesepakatan. Kreasi Arifin dan Atika, dominan dipesan oleh konsumen di Lampung Selatan.

Tika, sang istri menyebut, pesanan biasanya akan diberikan dua bulan atau satu bulan sebelum acara pernikahan. Tingkat kerumitan dan selera pemesan untuk pembuatan mahar, seserahan, hantaran, kerap didiskusikan bersama konsumen. Pelanggan yang tinggal dekat dengan tempat usaha, datang untuk mendiskusikan konsep mahar, seserahan dan hantaran pernikahan yang akan dibuat. Usaha kecil menghias mahar, seserahan dan hantaran pernikahan tersebut, mulai berkembang di sejumlah tempat. Meski banyak usaha sejenis, ciri khas dan kerapian pembuatan, menjadi kunci sukses usaha tersebut.

Meski omzet yang diperoleh menyesuaikan volume pemesanan, namun dari hasil yang diperoleh bisa digunakan untuk keberlangsungan usaha tersebut. Didukung, usaha orangtua, yang memiliki usaha kreativ pembuatan tas anyaman plastik, usaha Atika dan Arifin dikenal luas berkat media sosial.

Baca Juga
Lihat juga...