Bahan Baku Jadi Kendala Perajin Rotan Kotawaringin Timur

170
Ilustrasi barang kerajinan rotan di Indonesia/Foto: Dokumentasi CDN.

SAMPIT — Para perajin rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengalami kesulitan untuk mendapat bahan baku rotan dan terpaksa membeli bahan baku dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

“Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) merupakan salah satu daerah penghasil rotan terbesar di Kalimantan Tengah, namun sektor usaha rotan terpuruk setelah pemerintah melarang ekspor rotan mentah sejak akhir 2011 lalu. Banyak pengusaha gulung tikar dan harus merumahkan karyawannya karena permintaan anjlok,” kata Lurah Baamang Tengah Zikrillah di Sampit, Kalimantan Tengah, Selasa (11/12/2018).

Menurut dia, mau membeli bahan rotan jadi dari pedagang besar di sini harganya Rp70.000 per kilogram, akhirnya perajin membeli dari Banjarmasin dengan harga Rp40.000 per kilogram. Tapi kalau membeli dari Banjarmasin itu tidak bisa memilih, sehingga terkadang banyak yang rusak.

Dulu jumlah perajin rotan di Kecamatan Baamang mencapai puluhan dengan setiap unit usaha bisa mempekerjakan 10 hingga 15 orang karyawan. Kini tersisa hanya dua unit usaha di Kelurahan Baamang Tengah yang masih bertahan di tengah kondisi sulit.

Kini mereka itu pun makin dihadapkan pada banyak tantangan untuk bertahan, di antaranya terkait sulit mendapat bahan jadi untuk dibuat kerajinan rotan. Kondisi ini sudah berlangsung lama sehingga perajin harus mencari bahan jadi hingga ke Banjarmasin.

“Kendala lain yang dihadapi perajin, sulitnya memasarkan barang, apalagi dalam bentuk mebel rotan ukuran besar seperti kursi dan lainnya. Perajin biasanya hanya membuat ketika ada pesanan karena untuk membuat produk-produk itu memerlukan modal cukup besar,” katanya.

Zikrillah meyakinkan bahwa kemampuan perajin rotan di Baamang sudah bagus dan mampu menghasilkan produk berkualitas. Perlu dukungan semua pihak, termasuk dari pemerintah daerah dalam hal regulasi agar sektor ini kembali bangkit.

“Perlu regulasi untuk membantu jaminan pasokan bahan jadi untuk perajin rotan dan regulasi agar instansi pemerintah menggunakan mebel rotan sehingga bisa menyerap hasil produksi perajin rotan. Misalnya sofa, bak sampah, kursi dan lainnya dari rotan. Saat ini sangat sedikit. Ini supaya berimbas pada ekonomi masyarakat yang mengandalkan penghasilan di sektor ini,” harap Zikrillah.

Anggota Komisi III DPRD Kotim Dadang H Syamsu mengaku sepakat dengan harapan yang disampaikan tersebut. Ia akan mendorong bupati membuat surat imbauan agar seluruh satuan organisasi perangkat daerah menggunakan mebel rotan sehingga mampu menyerap hasil produk rotan lokal.

Dadang yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha dan Petani Rotan Kotim berjanji akan berkoordinasi dengan pemasok rotan untuk mengalokasikan bahan jadi untuk perajin lokal. Dia yakin masalah itu bisa dikomunikasikan karena semua pihak ingin sektor rotan kembali bangkit.

“Pada 2019 nanti kami di DPRD juga akan membahas rancangan Peraturan Daerah tentang Budaya Daerah yang di dalamnya mewajibkan pemerintah daerah menggunakan produk lokal, termasuk produk dari rotan. Mudah-mudahan regulasi ini nanti bisa membantu,” demikian Dadang yang juga Ketua Badan Legislasi DPRD Kotawaringin Timur. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...