Banjir di Lampung Selatan Sebabkan Petani Rugi Besar

Editor: Koko Triarko

170

LAMPUNG – Banjir akibat hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan, sejak Jumat (30/11) hingga Sabtu (1/12), menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah. Kerusakan infrastruktur jalan, jembatan, lahan pertanian serta rumah warga terjadi di wilayah Kecamatan Katibung, Sidomulyo, Kalianda dan Penengahan.

Husni, salah satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku mengalami kerugian jutaan rupiah akibat banjir tersebut. Kerugian itu merupakan estimasi dari bibit yang hanyut terbawa banjir serta lahan yang sudah diolah.

Menurutnya, lahan sawah yang memasuki tahap pengolahan dihantam banjir. Imbasnya, tanah halus yang sudah diratakan dengan traktor, hilang, sehingga ia terpaksa melakukan pengolahan lahan ulang. Benih padi yang ditanam juga sebagian tercabut dan terendam lumpur, sehingga dipastikan harus melakukan penebaran benih baru.

Tergerusnya lahan sawah akibat banjir dampak hujan deras yang melanda itu, juga membawa material sampah, yang didominasi plastik yang dibuang sembarangan di selokan dan terbawa arus sungai. Beberapa di antara sampah tersebut bahkan merupakan pecahan kaca yang membahayakan, saat berada di area persawahan.

Ia pun terpaksa harus melakukan pembersihan sampah plastik yang menumpuk di petak sawah.
“Sesuai rencana, seharusnya masa tanam akan dilakukan pertengahan Desember, tetapi lahan rusak harus dibajak ulang, ditambah benih yang rusak sebagian hanyut terpaksa harus menebar benih ulang,” terang Husni, Minggu (2/12/2018).

Husni juga menyebut, terjangan banjir bertepatan dengan lahan yang sudah dibajak dengan traktor, membuat tanah terkelupas. Namun, bagi petani yang masih belum membajak sawah, tanah sawahnya masih terselamatkan.

Husni mengaku harus membersihkan sampah plastik di area persawahan, kemudian membajak ulang, dan menebar benih padi, yang akan berimbas masa tanam, mundur.

Husni memperlihatkan jembatan serta talud penahan yang jebol pascabanjir melanda wilayah Penengahan, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Sudarwanto, warga lain, juga menyebut dampak hujan yang menyebabkan banjir membuat lahan pertaniannya terendam. Imbasnya, material kerikil, batu, potongan kayu masuk ke lahan persawahan. Sejumlah jalan terbuat dari aspal yang mengelupas, bahkan masuk ke lahan sawah, dan membuat petani harus mengerahkan tenaga untuk pembersihan. Luapan banjir dari sungai Way Asahan serta sejumlah sungai, bahkan membuat talud jebol.

“Sebagian talud yang jebol merupakan penahan badan jalan di dekat sungai dan sawah, jika tidak diperbaiki, dikuatirkan kerusakan akan parah,” beber Sudarwanto.

Gini, petani lain yang menanam kacang tanah, ubi jalar dan sawi, menyebut sebagian besar tanamannya juga rusak. Khusus untuk tanaman kacang tanah, ia memastikan harus panen dini, akibat lahan terendam genangan air. Panen dini dilakukan, untuk menghindari kerugian lebih besar, karena genangan air dapat mengakibatkan kacang membusuk.

“Sebagian sudah hanyut tercabut saat banjir melanda, serta sejumlah sayuran lain harus menanam ulang, kerugian bisa mencapai ratusan ribu akibat banjir,” cetus Gini.

Selain merugikan petani, pemilik kolam tanah dan kolam permanen di desa setempat juga mengalami kerugian. Hartek dan sejumlah pemilik kolam budi daya ikan nila dan ikan lele, menyebut akibat banjir itu ikan budi daya miliknya hanyut terbawa air.

Ia mengaku telah memasang waring khusus saat banjir melanda, namun derasnya air membuat ikan budi daya jenis nila dan lele, tetap hanyut. Pascabanjir, ia bahkan melakukan pencarian ikan di sejumlah sawah yang tergenang untuk menjaring ikan yang terlepas.

Gini, petani kacang tanah dan ubi jalar memanen lebih awal tanaman miliknya akibat banjir -Foto: Henk Widi

Imbas banjir juga masih menyulitkan sejumlah petani di Desa Kuripan dan Desa Ruang Tengah, salah satunya Rudi, pemilik lahan sawah. Pasalnya, memasuki masa panen padi di wilayah tersebut, talud penahan badan jalan di jembatan Way Asahan, jebol.

Akibatnya, Rudi dan warga lain yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, mengaku kesulitan mendistribusikan hasil pertanian.

Saat talud penahan badan jalan di dekat jembatan belum terputus oleh banjir, petani hanya menempuh jarak ratusan meter, namun kini harus menempuh jarak sekitar lima kilometer.

“Sebelum bagian jembatan putus, petani cukup memanfaatkan kendaraan roda dua karena dekat, kini harus menggunakan mobil sehingga biaya lebih mahal,“ beber Rudi.

Rudi berharap, jembatan yang selesai dibangun September lalu itu segera diperbaiki. Selain menjadi jalur utama distribusi barang dan hasil pertanian, jembatan dimanfaatkan untuk aktivitas anak sekolah.

Dampak kerusakan badan jalan di dekat jembatan Way Asahan sejumlah petani penanam padi, jagung dan pemilik kebun kakao harus mengeluarkan biaya ekstra.

Akibat banjir luapan sungai Way Asahan dan Way Pisang, sejumlah petani di dekat aliran sungai juga harus iklas tanaman yang dimiliki rusak dan hanyut terbawa arus sungai.

Baca Juga
Lihat juga...