Banjir Kiriman, Volume Sampah di Pantai Kedu Warna, Meningkat

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Volume sampah di Pantai Kedu Warna, Kalianda, Lampung Selatan (Lamsel),  meningkat dalam kurun waktu dua pekan terakhir.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lawok Kedu, Kalianda, Ibrahim Husin, membenarkan, volume sampah meningkat signifikan sejak musim hujan melanda wilayah Lampung Selatan. Sampah berbagai jenis yang terdampar di areal pantai didominasi sampah plastik, ranting pohon serta bambu.

Volume sampah yang meningkat tersebut, diakui Ibrahim Husin, menjadi hal biasa saat musim penghujan. Berbagai upaya disebut Ibrahim Husin telah dilakukan untuk membersihkan pantai yang merupakan salah satu destinasi wisata bahari di Lamsel tersebut.

Pembersihan terakhir diakuinya dilakukan mempergunakan fasilitas alat berat jenis buldozer milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Alat berat tersebut bahkan masih disiagakan mengantisipasi volume sampah bertambah.

“Sampah yang ada di Pantai Kedu Warna Kalianda kerap dibersihkan secara rutin, namun karena kondisi cuaca hujan membuat sejumlah sungai meluap membawa material sampah,” terang Ibrahim Husin, selaku Ketua Pokdarwis Lawok Kedu, Kalianda, saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (14/12/2018).

Ibrahim Husin, Ketua Kelompok Sadar Wisata Lawok Kedu, Kalianda, Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Sampah yang berada di pantai Kedu Warna, diakui Ibrahim Husin, dominan berasal dari sampah yang terbawa arus laut. Sampah yang berada di sekitar pantai tersebut menurutnya sebagian merupakan sampah kiriman dari sungai yang ada wilayah Lampung Selatan.

Selama pengelolaan destinasi wisata Pantai Kedu Warna, ia menyebut, telah memberi imbauan kepada warga tidak membuang sampah di pantai. Namun sampah kiriman tersebut kerap terjadi saat gelombang pasang sehingga sampah ikut terbawa ke pantai.

Sampah tersebut, menurut Ibrahim Husin, meski kerap dibersihkan namun volume sampah kerap bertambah. Penambahan volume sampah yang meningkat  kerap terjadi saat malam hari. Meski sudah dibersihkan beberapa kali dalam satu pekan terakhir, volume sampah terus bertambah.

Pembersihan sampah dilakukan saat akan ada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) paramotor 2018. Lokasi pantai yang digunakan untuk penerbangan (take off) dan pendaratan (landing) dibersihkan dari sampah agar tidak mengganggu kegiatan paramotor.

“Volume sampah sementara berkurang dalam dua hari terakhir, namun penambahan sampah berpotensi terjadi karena hujan masih berlangsung,” terang Ibrahim Husin.

Sesuai dengan hasil pembersihan sampah yang berada di Pantai Kedu Warna, Ibrahim Husin menyebut, volume sampah yang dibersihkan lebih dari sepuluh ton. Sampah yang dikumpulkan  merupakan jenis sampah tidak mudah terurai sehingga harus dibakar.

Secara alami sampah yang berada di Pantai Kedu Warna akan kembali bersih saat ada gelombang tinggi. Sampah yang terbawa arus tersebut akan terbuang ke sejumlah wilayah di pesisir Lampung Selatan di antaranya Kalianda, Bakauheni hingga Bandarlampung.

Namun, kini, pembersihan sampah di Pantai Kedu Warna  juga akan terus dilakukan, bukan hanya karena akan ada event Kejurnas Paramotor Indonesia 2018. Pembersihan Pantai Kedu Warna dari volume sampah yang meningkat signifikan diakui juga untuk persiapan libur sekolah, Natal dan tahun baru.

Sesuai dengan pengalaman tahun sebelumnya, destinasi pantai masih menjadi lokasi favorit untuk mengisi liburan.

“Sampah yang berada di Pantai Kedu Warna merupakan sampah akibat fenomena pasang surut air laut terbawa dari wilayah lain. Harus selalu dibersihkan untuk menarik wisatawan,” beber Ibrahim Husin.

Sebuah perahu karet ditempatkan di Pantai Kedu Warna yang sebagian sudah dibersihkan dari sampah – Foto Henk Widi

Misri Saifulah, salah satu warga di Lingkungan Sinar Laut, Kelurahan Way Urang, mengaku, sampah pantai Kedu Warna terjadi selama dua pekan terakhir. Imbasnya kondisi pantai yang biasanya bersih dikotori oleh sampah kiriman dari wilayah lain.

Sebagai warga di sekitar Pantai Kedu Warna sekaligus anggota Pokdarwis Lawok Kedu, ia menyebut, telah mendapat sosialisasi terkait sapta pesona. Lokasi objek wisata tersebut bahkan telah diberi fasilitas tempat sampah bagi pengunjung.

“Sampah yang ada di pantai dominan berasal dari wilayah lain karena masyarakat di pantai sudah memiliki kesadaran menjaga kebersihan,” beber Misri Abdulah.

Upaya menjaga kebersihan di lingkungan pantai disebut Misri Abdulah kerap dilakukan. Meski demikian masih adanya masyarakat yang membuang sampah di sekitar sungai, membuat volume sampah meningkat.

Volume sampah yang meningkat di Pantai Kedu Warna  berpotensi mengganggu estetika Pantai Kedu Warna.

Ia menyebut, perlu ada kesadaran untuk tidak membuang sampah di sungai. Penebangan pohon dan membuang limbah pertanian ikut menyumbang kenaikan volume sampah di Pantai Kedu Warna.

Lihat juga...