Banjir, Petani Panen Dini Padi

Editor: Mahadeva WS

154

LAMPUNG – Hujan deras yang mengakibatkan banjir pada Sabtu (1/12/2018), hingga Selasa (4/12/2018) masih berdampak pada lahan pertanian di Lampung Selatan. Puluhan hektare lahan sawah di Desa Sukaraja, Desa Sukamulya, Desa Pematang Baru, serta sejumlah desa di dekat tanggul Sungai Way Pisang, masih terendam air.

Kondisi tersebut, membuat petani memilih melakukan panen lebih cepat dari jadwal. Pemanenan melibatkan penyedia jasa ojek angkut gabah dan jasa pemanen menggunakan mesin combine harvester. Mulyadi, petani di Desa Pematang Baru, yang lahannya terendam banjir, mendatangkan pemilik mesin pemanen combine harvester lengkap dengan buruh angkut. Meski tanamannya masih terlihat berdiri tegak setelah terendam banjir, Mulyadi tidak mau berspekulasi dan memilih memanen lebih dini.

Menyewa mesin, berikut para pekerja, Mulyadi harus membayar Rp700.000. Ongkos tersebut belum termasuk ongkos ojek mengangkut padi ke rumah. “Pemanenan harus segera dilakukan, karena khawatir banjir susulan. Sementara tanggul penangkis jebol, belum diperbaiki,” ujar Mulyadi, Selasa (4/12/2018).

Mulyadi (topi kuning) pemilik sawah di Desa Pematang Baru Kecamatan Palas Lampung Selatan mempekerjakan sejumlah orang untuk memanen padi miliknya sesudah diterjang banjir luapan sungai Way Pisang – Foto Henk Widi

Mulyadi harus merogoh kocek Rp1 juta, untuk membiayai panen padi miliknya. Dia memilih mengeluarkan biaya ekstra untuk memanen padi, menghindari kerugian yang lebih besar, jika banjir kembali melanda. Badrun, operator mesin combine harvester, mendapat upah Rp100.000 perhari. Pekerja lain, yang bertugas mengumpulkan gabah, juga mendapat upah dengan nilai yang sama. Musim panen, disebut Badrun menjadi sumber penghasilan bagi orang yang tidak memiliki sawah sepertinya.

Selama musim panen kali ini, dalam sehari, Dia bisa berpindah lima hingga enam kali. Biaya sewa combine harvester, menyesuaikan luasan lahan. Harganya berkisar dari Rp500 ribu hingga Rp2 juta. “Saya hanya menjalankan, nanti hasilnya akan dibagi sesuai dengan persentase, sehingga hasilnya tidak menentu, sesuai luasan lahan padi yang dipanen,” ungkapnya.

Dalam bekerja, Badrun membawa lima orang, yang bertugas sebagai kernet. Tugasnya, memasukkan gabah dan mengganti karung pada mesin, memindah gabah ke karung yang lebih besar, dan memindah gabah ke kendaraan pengangkut.

Sutiman, salah satu penyedia jasa ojek gabah menyebut, proses pengangkutan gabah atau biasa disebut unjal, dilakukan dengan sistem upah, sebesar Rp3.000 perember. Satu karung gabah, biasa berisi lima ember besar. Kini kehadiran kendaraan roda dua untuk mengangkut lebih memudahkan pengangkutan. Kendaraan roda dua dimodifikasi dengan kayu untuk penahan dan bagian ban diberi rantai. Panen saat kemarau cukup mudah mengoperasionalkan ojek.

Namun, saat musim penghujan disertai banjir, pengojek menghadapi kesulitan yang lebih besar. Ojek diupah Rp5.000 hingga Rp10.000 perkarung, tergantung jarak. Disaat banyak yang membutuhkan seperti saat ini, tarifnya naik menjadi Rp15.000 perkarung. “Jalan berlumpur membuat motor susah melintas dan harga premium mulai naik sekaligus langka sehingga upah naik,” papar Sutiman.

Melalui usaha ojek gabah tersebut, Sutiman mengaku bisa mendapatkan hasil Rp250.000 hingga Rp450.000 perhari. Upah tersebut, bisa lebih banyak tergantung petani yang sedang panen.

Baca Juga
Lihat juga...