Banjir Sebabkan Sampah Menumpuk di Pintu Air Bendungan Indah

Editor: Koko Triarko

153

LAMPUNG – Banjir di sejumlah titik di Lampung Selatan, selain menimbulkan kerugian bagi para petani, juga menyebabkan menumpuknya sampah di pintu air Bendungan Indah di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas.

Irwan (40), warga Desa Sukaraja, mengatakan, pintu air bendungan tersebut masih tertutup material sampah sejak banjir melanda wilayah Lamsel pada Jumat (30/11).

Bermacam jenis sampah seperti plastik, ranting pohon, bambu  dan lainnya terlihat masih menumpuk di bendungan Indah dengan volume lebih banyak dibanding kondisi normal.

Menurut Irwan, sebagian warga ikut membersihkan sampah yang menumpuk itu, guna menghindari luapan air Sungai Way Pisang. Sampah yang terbawa arus saat hujan deras, didominasi oleh ranting pohon dan bambu, yang sebagian sengaja dibuang ke sungai.

Pembersihan selama dua hari saat banjir berlangsung pada Jumat (30/11) hingga Sabtu (1/12,) bahkan masih menyisakan sampah di pintu air bendungan.

Sungai Way Pisang mengalirkan air dari kecamatan Penengahan, Palas dan Kalianda, melalui sejumlah sungai kecil.

Irwan, warga Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, membersihkan sampah di pintu air bendungan Indah -Foto: Henk Widi

“Sampah yang hanyut terbawa air sungai, umumnya berasal dari wilayah hulu, d iantaranya berasal dari perkampungan dan perkebunan, berpotensi menghambat arus air, bahkan sebagian membendung aliran air,” beber Irwan, Minggu (2/12/2018).

Material sampah berupa potongan bambu yang sengaja dibuang ke sungai Way Pisang, katanya, mengakibatkan aliran air terhambat. Imbasnya, sejumlah lahan pertanian, seperti jagung, pisang, kelapa sawit serta lahan persawahan terendam luapan sungai Way Pisang.

Kerusakan paling parah berada di wilayah Sukaraja, yang mengakibatkan tanaman jagung usia dua puluh hari setelah tanam, rusak. Penyebab kerusakan tanaman jagung selain terjangan air, juga imbas sampah yang menimbun tanaman jagung.

Menurutnya, sebagian sampah yang terbawa ke aliran Sungai Way Pisang, menyangkut di enam pintu air bendungan Indah. Bendungan yang dibangun sekitar puluhan tahun silam tersebut memiliki lebar sekitar 25 meter.

Dua pintu air yang bisa dibuka tutup dengan pintu ulir sengaja ditutup selama hujan deras, berimbas banjir berlangsung. Air pada saluran utama terhambat oleh sampah, sehingga warga secara sukarela membersihkan material sampah, untuk menghindari luapan air bendungan ke pemukiman.

Sebagian sampah kayu sengaja dikumpulkan untuk kayu bakar, dan sebagian dijual. Sampah tersebut umumnya merupakan sampah kiriman dari bagian hulu.

Banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan di selokan serta sungai, kata Irwan, menyumbang volume sampah di bendungan Indah tersebut.

Jika volume sampah pada kondisi normal hanya mencapai lima ton, saat banjir volume sampah mencapai 10 ton, bahkan terus bertambah jika tidak dibersihkan.

Lahan perkebunan sawit terendam banjir di wilayah Sukaraja, Kecamatan Palas -Foto: Henk Widi

Mei Dwiono (57), warga di dekat sungai Way Pisang, juga menyebut dampak banjir membuat sampah menumpuk di bendungan. Sebagian sampah didominasi material ranting dan batang pohon, membuat lahan sawit miliknya terendam.

Lahan sawit tersebut terendam selama hampir tiga hari, sejak hujan deras melanda wilayah tersebut, dan mengakibatkan banjir. Ketinggian air yang semula mencapai satu meter berangsur mulai surut setinggi lutut orang dewasa.

“Sampah yang sempat menyumbat bendungan membuat air sungai meluap sebagian ke perkebunan sawit, petani yang akan panen terpaksa menunda, karena akses ke kebun tergenang banjir,” beber Mei Dwiono.

Selain itu, sambungnya, sebagian lahan kebun yang terendam akan berpotensi menyebabkan kebusukan pada tanaman sawit. Ia berharap, banjir segera surut, sehingga tanaman sawit yang dimilikinya bisa dipanen dan sampah yang berada di lahan sawit segera dibersihkan.

Akibat hujan deras disertai banjir, laki laki yang juga memiliki ternak bebek tersebut mengalami kesulitan mencari pakan keong mas. Mei Dwiono menyebut, ia kerap mencari keong mas di lahan persawahan Desa Sukaraja, sebagai tambahan pakan bebek.

Namun akibat hujan yang berimbas banjir, masih menggenangi lahan persawahan membuat ia kesulitan mencari keong mas. Musim hujan yang berpotensi terjadi membuatnya dan warga lain yang tinggal di bendungan was-was, jika hujan kembali turun.

Volume sampah yang kian bertambah jika tidak dibersihkan, berpotensi membuat sungai meluap dan merusak lahan pertanian milik warga.

Namun di sisi lain, meski mengganggu pintu air bendungan Indah, sampah didominasi bambu dan kayu juga menjadi berkah bagi warga lainnya.

Usman (40), pencari kayu bakar mengaku sengaja memilih batang kayu dan bambu, yang dimanfaatkan untuk kayu bakar, dan akan dijual kepada pemilik usaha pembuatan genting dan batu bata.

Kebutuhan kayu bakar bisa diperoleh dari mencari sampah kayu yang menumpuk di bendungan Indah.

Menurutnya, beberapa jenis kayu yang menjadi sampah dan menyumbat pintu bendungan, bisa dijual dengan harga Rp300 ribu untuk ukuran satu mobil kecil.

Membersihkan sampah di pintu bendungan, pun baginya dapat menghasilkan uang. Berbekal gergaji dan golok, ia mengumpulkan kayu untuk bisa digunakan sebagai kayu bakar, yang sebagian dijual ke pembuat batu bata dan genting.

Baca Juga
Lihat juga...