Batu Apung Gunung Anak Krakatau Jadi Tontonan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah penumpang Kapal Roll on roll off (Roro) dari pelabuhan Bakauheni menuju Merak dan sebaliknya, melihat material batu apung mengambang di Selat Sunda.

Sebaran batu apung bercampur dengan sampah ranting pohon, batang pohon serta berbagai jenis sampah berada di sekitar Pulau Kandang Balak, Kandan Lunik, Penjurit hingga di dekat Pulau Sangiang.

Hasan, salah satu penumpang kapal motor penumpang (KMP) Titian Murni yang naik dari dermaga dua pelabuhan Bakauheni, menyebut batu apung mengapung di perairan bersama material sampah lain.

Fery Hendry Yamin, petugas Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli KSOP Kelas V Bakauheni Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Menurut Hasan, material vulkanik yang keluar dari Gunung Anak Krakatau (GAK) tersebut, lebih banyak dibandingkan kondisi normal. Sebagai pengemudi truk ekspedisi pulau Sumatra ke pulau Jawa, ia kerap melihat kondisi perairan Selat Sunda. Pascatsunami melanda wilayah provinsi Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12), ia mengaku perairan Selat Sunda lebih kotor. Berbagai sampah yang sebagian ranting pohon bercampur batu apung mengambang terbawa arus di Selat Sunda.

“Batu apung yang terbawa arus terlihat di sisi kanan dan kiri haluan kapal, tercampur  dengan material lain. Aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak terlihat, hanya sesekali ada kilat dari posisi gunung yang sudah terhalang pulau Sangiang,” terang Hasan, saat ditemui Cendana News di dek pertama kapal yang menuju pelabuhan Merak tersebut, Kamis (27/12/2018).

Ia juga menyebut, kondisi pelayaran di lintas Selat Sunda didominasi oleh gelombang tinggi dan angin kencang. Kondisi tersebut mengakibatkan waktu tempuh kapal yang biasanya bisa satu jam setengah, harus ditempuh dengan waktu dua jam lebih.

Namun, katanya, sejak aktivitas GAK di Selat Sunda, pelayaran masih berjalan dengan normal dari pelabuhan Bakauheni menuju ke pelabuhan Merak dan sebaliknya.

Sementara itu, Fery Hendry Yamin, petugas Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP) Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni, mengatakan, aktivitas pelayaran di Selat Sunda dari pelabuhan Bakauheni menuju Merak, terpantau dalam kondisi aman.

Pelayaran kapal-kapal dari pelabuhan Bakauheni ke Merak, tidak terpengaruh kondisi GAK, meski status dinyatakan dalam kondisi level III (Siaga).

“Tidak terpengaruh oleh aktivitas GAK, kapal-kapal masih beroperasi dengan normal, dan kami imbau nahkoda kapal tetap waspada kondisi di perairan Selat Sunda,” beber Fery Hendry Yamin.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Cendana News dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui grup Basarnas Lampung, sebaran debu vulkanik Krakatau mengarak dari Barat Daya ke Barat.

Sebaran debu vulkanik GAK di antaranya mencapai jarak terjauh hingga 160 kilometer, dan ketinggian sebaran debu vulkanik dapat mencapai lebih dari 12 kilometer. Berdasarkan RGB, citra satelit cuaca Himawari tertanggal 27 Desember 2018 pukul 13:00 WIB.

Aktivitas vulkanik GAK hingga Kamis (27/12), berdasarkan informasi yang diperoleh dari Cendana News, dari Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Berapi, Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargo Pancuran, status GAK masih level III (Siaga).

Debu vulkanik yang mengarah ke wilayah Cilegon, Serang dan wilayah Banten menerpa sejumlah perkampungan warga. Andi Suardi mengimbau kepada seluruh warga yang beraktivitas di luar ruangan, agar tidak terpapar debu vulkanik GAK.

Lihat juga...