Begini Cara Petani di Lamsel Siasati Lahan Kering Berpasir

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Miliki potensi lahan kering berpasir, tak menyurutkan petani di wilayah Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang Lampung Selatan untuk bercocok tanam. Kondisi cuaca disikapi dengan menyesuaikan dengan cuaca,  yakni menanam padi saat musim penghujan dan hortikultura saat kemarau.

Siami (60) salah satu petani menyebutkan, lahan tadah hujan yang dimilikinya berada jauh dari saluran irigasi. Meski demikian ia dan suaminya sejak puluhan tahun silam memanfaatkan untuk menanam padi dan hortikultura.

Saat kemarau, lahannya ditanami kacang hijau, kedelai, timun suri, tomat hingga cabai. Meski dalam skala kecil, namun jenis tanaman yang di pilih tidak memerlukan lahan luas, cepat dipanen serta mudah dijual.

Seperti halnya kacang hijau yang ditanam dengan cara tradisional mempergunakan sistem tugal. Menggunakan bibit  setengah kilogram dapat menghasilkan lebih dari 20 kilogram. Harga di tingkat petani mencapai Rp20.000 per kilogram sehingga ia bisa mendapatkan hasil Rp400.000 sekali panen.

Penanaman kacang hijau yang cukup mudah tanpa harus melalui perawatan khusus membuat ia bisa menanam jenis tanaman lain di lahan kering seperti kacang tanah yang memiliki usia panen 40 hari.

Harga kacang tanah yang bisa mencapai Rp10.000 per kilogram saat dijual dalam kondisi muda memberi keuntungan sebelum usia dua bulan. Penanaman berselang dengan jenis tanaman lain menjadi cara untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

Saat satu jenis tanaman lain sudah dipanen ia sudah menyiapkan jenis tanaman lain, salah satunya timun suri.

“Tanaman timun suri tidak memerlukan penanganan yang sulit dan anak saya berjualan buah sehingga bisa langsung dijual,” beber Siami.

Meski sudah memasuki musim hujan Siami mengaku lahan miliknya masih digunakan untuk menanam hortikultura. Beberapa jenis tanaman tersebut cukup memberi keuntungan karena ditanam dengan sistem tumpangsari.

Lahan kering
Suminah, menjual buah timun suri dan berbagai buah lokal hasil pertanian warga Kecamatan Ketapang. Foto: Henk Widi

Suminah, anak Siami yang berjualan berbagai jenis buah lokal di dekat lahan milik orangtuanya mengaku timun suri cukup diminati. Tanaman tersebut tidak mengenal musim dan bisa menghasilkan saat usia satu bulan.

Selain menjual berbagai jenis buah yang ditanam pada lahan milik orangtuanya, Suminah juga menjual berbagai jenis buah lokal lain. Di antaranya salak, jeruk keprok, belimbing, pepaya kalina yang sebagian dipasok dari wilayah Lampung Selatan.

Berbagai jenis buah yang dijual umumnya merupakan tanaman tidak mengenal musim sehingga selalu tersedia di kios buah miliknya. Berbagai buah tersebut dijual mulai dari Rp4.000 hingga Rp15.000 dijual dengan sistem timbangan.

Lihat juga...