Belajar di MTs NU 3 Cilongok, Siswa Hanya Bayar Infak Sukarela

Editor: Mahadeva

BANYUMAS – Berada di kawasan pedesaan, yaitu di lereng gunung, tidak menyurutkan semangat warga Cilongok, Banyumas untuk mengenyam pendidikan. Keberadaan Madrasah Tsanawiyah (MTs) NU 3 Cilongok, dengan program sekolah secara swadaya, hingga biaya operasional yang juga menjadi bukti besarnya semangat untuk belajar tersebut.

Siswa di sekolah yang baru berdiri pada 2015 lalu tersebut, tidak banyak. Hanya ada puluhan siswa, yang belajar. Namun, semangat belajar yang dipancarkan sekolah tersebut, mampu menerangi masa depan anak-anak dari keluarga tidak mampu yang ada di Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok. Mereka bisa belajar tanpa beban. Tidak hanya biaya sekolah yang digratiskan. Para siswa juga mendapatkan seragam baru gratis, saat pertama masuk sekolah.

Waka Kurikulum MTs NU 3 Cilongok, Sudiro, mengatakan, anak-anak di sekoah tersebut tidak perlu memikirkan biaya pendidikan, buku, seragam dan kebutuhan lainnya. Semua, disediakan gratis. ʺYang penting, anak-anak mau datang dan terus belajar, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,ʺ tuturnya, Kamis (20/12/2018).

Sekolah yang berada di lereng Gunung Slamet tersebut, menjadi istimewa, karena berdiri secara swadaya, di tengah keterbatasan ekonomi warga desa. Pada awalnya, sekolah ini merupakan Madrasah Diniyah. Namun, karena tidak bisa berfungsi maksimal, dan banyaknya anak tidak mampu di desa tersebut yang tidak melanjutkan sekolah setelah tamat Sekolah Dasar (SD), akhirnya pengurus menggagas pendirian MTs.

Proses pendirian sekolah tersebut patut diacungi jempol. Tanah, tempat berdirinya sekolah, merupakan tanah wakaf dari empat orang warga jamiyah NU. Pendirian gedung, dilakukan pengurus dengan mengumpulkan para donatur. Dengan uang yang terkumpul, pembangunan gedung dimulai secara bertahap. Sekarang, sekolah sudah memiliki enam ruangan, empat untuk ruang kelas, dan sisanya untuk ruang guru dan ruang serba guna.

Sekolah tersebut, menjadi tempat belajar favorit bagi warga tidak mampu di daerah tersebut. Untuk bisa belajar, hanya ada infak sukarela, yang ditawarkan kepada wali murid. ʺInfaknya sukarela, semampu orang tua, ada yang nol rupiah alias gratis, ada yang Rp100 ribu untuk satu tahun, semua kita terima dengan senang hati. Sebab, yang terpenting adalah anak-anak tetap sekolah,ʺ kata Sudiro.

Untuk operasional sekolah, termasuk gaji para guru, pengurus mengambil dari para donatur. Jumlahnya bisa dibilang sangat sedikit, namun para guru menerimanya dengan senang hati. Gaji guru di sekolah tersebut hanya berkisar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per bulan.

Ismanto, adalah salah satu siswa yang belajar di kelas delapan sekolah tersebut. Ayahnya, Khamili (53), bekerja serabutan, sementara sang ibu, sudah meninggal karena sakit. Ismanto memiliki adik yang masih berusia dua tahun, sehingga Dia harus bahu-membahu bersama sang ayah, untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga adiknya.

Beruntung Ismanto dikaruniai otak yang cerdas, Dia selalu mendapat rangking di kelas. Dukungan dari ayahnya juga luar biasa. Di tengah keterbatasan ekonomi, ayahnya tetap menginginkan Ismanto melanjutkan sekolah. Paham dengan kondisi keluarganya, Ismanto juga tidak mau berpangku tangan. Setiap kali ada waktu luang, ia membuat layangan dan dijual ke teman-temannya. ʺLayangan kecil saya jual Rp5 ribu, kalau yang besar Rp10 ribu, uangnya untuk membantu bapak membeli keperluan rumah, terkadang juga untuk beli jajan sebagian,ʺ tutur Ismanto sambil merakit layangan.

Lihat juga...