Belajar Keragaman Budaya Yogyakarta di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

187

JAKARTA – Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan replika Rumah Adat Mataram atau Keraton Mataraman, sebagai bangunan induk.

Rumah adat ini dibagi menjadi tiga bagian. Diantaranya adalah bagian depan yang disebut Pendopo Agung atau Bangsal Kencono. Yang difungsikan sebagai tempat menerima tamu dan pementasan kesenian Yogyakarta.

Pendopo Agung ini bangunan tanpa dinding dengan empat Soko Guru atau tiang utama yang didukung tiang-tiang pembantu di seputarnya.

“Arsitektur replika rumah adat Mataram ini adalah bangunan keraton atau istana Yogyakarta. Semua tiangnya berbahan kayu berukir, dengan corak ragam hias yang berasal dari aliran Hindu, Budha, dan Islam,” kata Pranata Anjungan DI Yogyakarta TMII, Ngatiman, kepada Cendana News, Rabu (5/12/2018).

Ruang Pendopo Agung ini, jelas dia, dilengkapi seperangkat gamelan Jawa, yaitu Kyai Shanti Mulyo (Laras Pelog) dan Kyai Rajah atau Laras Slendro.

Pranata Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta TMII, Ngatiman. Foto : Sri Sugiarti.

Bagian tengah bangunan disebut Pringgitan, yakni berasal dari kata ringgit yang artinya wayang kulit. “Di Pringgitan ini kerap digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Kesenian adiluhung masyarakat Jawa,” ujarnya.

Adapun sebut dia, diantara Pendopo Agung dan Pringgitan, terdapat ruangan Longkangan, yang berfungsi sebagai tempat latihan kesenian dan pentas seni budaya Yogyakarta.

Berlanjut ke dalam ruangan adalah Dalem Ageng atau istilah keraton Yogyakarta dinamakan Bangsal Proboyekso.

Ruangan ini jelas Ngatiman, dipamerkan berbagai replika antik. Antara lain, tempat tidur kuno berbahan marmer. “Tempat tidur antik ini peninggalan Sultan Hamengkubuwono ke V,” ujarnya.

Tersaji juga benda-benda dari istana Paku Alam, seperti tombak pusaka Kyai Garuda Temanten. Ada juga keris pusaka berluk atau pamor beras wutaha, yang bernama Kyai Jangkung Pacar.

“Pusaka ini dibuat oleh seorang Empu R. Ng. Kariyocurigo, pada masa pemerintahan Paku Alam tahun 1840,” jelasnya.

Di Dalem Ageng dipamerkan juga Pasarean Tedeng. Yakni berupa balai-balai kuno, tempat dimana Sri Sultan Hamengkubuwono IX dilahirkan.

Diantaranya, Senthong Tengah atau Pasarean tengah. Ini adalah tempat pemujaan kepada Dewi Sri, yang dalam mitos Hindu dianggap Dewi Kesuburan dan Kesejahteraan.

Senthong berbentuk tempat tidur kuno berpenutup cinde adalah peninggalan Pangeran Diponegoro.

Dalem Ageng juga menampilkan upacara Tampa Kaya. Yaitu, upacara simbolis pemberian nafkah hidup dari suami kepada istri, dalam perkawinan adat.

Diorama upacara Pondongan dipamerkan di Dalem Ageng replika Keraton Yogyakarta Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta TMII, Jakarta. Foto Sri Sugiarti

Dalam ruangan ini terdapat sepasang patung pengantin Jawa. Sepasang pengantin ini dinamakan Kyai dan Nyai Blonyo atau Loro Blonyo.

Tersaji juga diorama upacara Pondonganan. Lengkap dengan busana adat tradisional pengantin Paes Agung keraton Yogyakarta.

Dijelaskan Ngatiman, ritual pernikahan Agung Yogyakarta ini, dilakukan jika mempelai wanita adalah keturunan atau putri Sultan.

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat diorama prajurit Keraton Yogyakarta. Prajurit ini bernama Daheng, Nyutro, dan Prawirotomo.

Dijelaskan dia, prajurit Daheng adalah prajurit asing keraton Yogyakarta yang menurut sejarah berasal dari suku Bugis Makassar. Atas kemurahan hati Sri Sultan, mereka betah tinggal di keraton, maka prajurit ini pun mengabdikan jiwa raga untuk Keraton Yogyakarta.

“Akhirnya mereka (prajurit- red) itu menetap dan beranak cucu di Yogyakarta, sampai sekarang,” ujarnya.

Pengunjung juga bisa melihat lampu dengan minyak kelapa yang selalu menyala. Di Keraton Yogyakarta, lampu disebut Kyai Wiji. Apinya diambil dari gunung merapi dan menyala abadi sampai sekarang.

Dalam ruangan Dalem Ageng juga dipamerkan diorama Candi Prambanan dan potensi wisata Yogyakarta lainnya. Selain itu, pengunjung juga terpesona dengan sepasang kaca besar dengan meja marmer. Kaca besar ini tembus cahaya, foto-foto Sri Sultan Hamengku Buwono ke IV dan ke IX dalam pakaian kebesaran.

Bagian belakang dari Dalam Ageng, terdapat ruangan yang dinamakan Gadri. Ini merupakan ruang keluarga dan makan.

Tapi kata Ngatiman, di anjungan, ruangan ini dimanfaatkan sebagai ruang rias dari studio tari.

Adapun bagian samping dari Dalem Ageng terdapat ruang Saketeng kanan dan Saketeng kiri, yang digunakan untuk memperagakan berbagai hasil kerajinan dari Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunung Kidul.

Sedangkan, jelas dia lagi, bangunan tambahan yang terletak di seputar anjungan antara lain bangsal mandalayasa, dimana ditempatkan andong khas Yogyakarta.

Di bangsal ini juga ada kafeteria dan art shop Mataram, yang menjual hasil-hasil kerajinan kota Gede, Cokrosuharto dan lainnya. Terdapat juga bangunan tempat pembuatan keris.

“Anjungan DI Yogyakarta dibangun di TMII, sebagai show window pelestarian dan mengenal khazanah budaya Yogyakarta,” ujarnya.

Dia berharap, masyarakat Jakarta dan sekitarnya, setelah datang ke anjungan, bisa tahu budaya khas Yogyakarta.

“Jadi sebelum mereka datang ke Yogyakarta, bisa lebih dulu tahu informasi dari anjungan ini. Terbukti banyak wisatawan domestik dan turis ke Yogya,” ujarnya.

Terkait ukiran yang menghiasi Keraton Mataram, menurutnya, setiap ukiran memiliki filosofi. Seperti ukiran di pojok bangunan, namanya Wajikan. Itu bermakna rasa manusia. Dengan arah bangunan empat persegi jajaran genjang. Ini menunjukkan empat arah angka yang sangat fenomenal sebagai bilangan genap. Bisa diterjemahkan dua atau empat.

“Jadi kalau manusia itu genap. Dia sehat. Kalau rumah itu dibangun sesuai dengan itu, harapannya jadi sehat sehingga enak ditempati dan sedap dipandang,” ujarnya.

Replika Rumah Adat Mataram atau Keraton Mataraman, bangunan utama Anjungan DI Yogyakarta TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti

Lalu kaitan dengan ornamen juga bermakna kehidupan manusia. Seperti ornamen buntu walang atau gigi walang, jelas dia, adalah capaian bahwa orang harus semangat berjuang. Sesuai dengan disiplin ilmu atau kemampuan.

Kemudian, lanjut dia, ada rangkaian tangkai daun bunga dan lainnya. Juga paduan warna yang disajikan yaitu hijau, dan merah, gambaran kehidupan surgawi.

“Rumah itu indah kalau ditempati, jadi nyaman. Nah, warna hijau konotasinya adalah sejuk. Jadi gambaran bahwa Yogya itu adem,” paparnya.

Selain itu, kata dia, contoh lain ada probo-probo atas. Bermakna kalau yang atas adalah pancaran sinar Ilahi. Jadi, di rumah ada barokah, berkah itu datang dari pancaran sang maha pencipta.

Ngatiman mengaku, banyak turis, pelajar dan mahasiswa yang mengadakan studi banding ke anjungan DIY. Mereka bertanya filosofi bangunan keraton Yogyakarta, termasuk kekhasan ukiran dan ornamen. Begitu juga dengan benda-benda yang dipamerkan.

Dalam pelestarian seni budaya, anjungan ini juga ada pelatihan menari, gamelan, ketoprak dan karawitan. Pelatihan seni di bawah pembinaan Diklat Seni Anjungan DI Yogyakarta TMII.

“Ada komunitas Jepang berlatih gamelan tiap Rabu pagi. Tapi Rabu pekan ini libur. Ada juga komunitas lainnya yang kesemuanya di bawah binaan diklat seni anjungan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...