Belum Semua Sekolah di DIY Mampu Layani Siswa Disabilitas

Editor: Koko Triarko

Kabid PLB dan Dikdas Disdikpora DIY, Bachtiar Nurhidayat -Foto:  Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, terus berupa mendorong semua sekolah, agar mampu melayani siswa berkebutuhan khusus atau inklusi di masa yang akan datang. Salah satunya dengan mendorong sekolah memiliki fasilitas maupun kebutuhan guru yang ramah anak dan mampu mengajar semua anak. 

“Memang, sampai saat ini belum semua sekolah termasuk guru-gurunya siap menerima anak berkebutuhan khusus. Karena itu, kita terus mendorong secara bertahap. Agar sekolah memiliki fasilitas pendukung bagi siswa inklusi, seperti komputer tuna netra, pustaka braile, dan sebagainya. Termasuk memiliki guru ramah anak untuk semua anak,” ujar Kepala Bidang Pendidikan Luar Biasa dan Pendidikan Dasar Dikpora DIY, Bachtiar Nurhidayat.

Bachtiar mengatakan, pelayanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus selama ini dijalankan melalui dua cara. Pertama, memasukkan mereka ke sekolah reguler dengan kurikulum standar bersama siswa pada umumnya. Kedua, memasukkan mereka ke Sekolah Luar Biasa (SLB) dengan kurikulum khusus yang lebih memprioritaskan pendidikan vokasi dan kemandirian.

“Kecenderungannya, siswa berkebutuhan khusus lebih banyak masuk ke sekolah reguler. Itu karena pengaruh orang tua yang enggan memasukkan anaknya ke SLB, dengan alasan dan pertimbangan tertentu. Sehingga, memang sekolah reguler harus benar-benar kita siapkan, agar mampu melayani siswa inklusi. Meskipun ada batasan tertentu, di mana tidak semua berkebutuhan khusus bisa masuk sekolah reguler,” ujarnya.

Salah satu upaya Disdikpora mewujudkan hal tersebut adalah dengan menggelar pelatihan ke-PLB-an bagi guru-guru di sekolah regular.

Termasuk mendorong sekolah reguler melakukan kerja dengan SLB yang ada. Sehingga setiap guru memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam mengajar anak berkebutuhan khusus.

Lihat juga...