Bencana Mengepung, Pemprov Sumbar Imbau tak Rayakan Pergantian Tahun

Editor: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Kepala Daerah Provinsi Sumatera Barat telah menyampaikan kepada kepala daerah kabupaten dan kota untuk mengeluarkan imbauan kepada masrayakat supaya tidak merayakan pergantian tahun.

Hal ini mengingat bencana yang mengepung sejumlah daerah di Indonesia, dan sudah seharusnya jadi pertimbangan masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan seperti pesta merayakan pergantian tahun.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengatakan, terlepas dari persoalan bencana yang terus mengepung Indonesia, perayaan pergantian tahun baru bukanlah budaya Indonesia, apalagi di Sumatera Barat. Seperti memainkan kembang api dan meniup terompet di detik-detik pergantian tahun.

“Kita dari provinsi telah menyampaikan ke kepala daerah di kabupaten dan kota. Untuk itu tidak perlulah merayakan pergantian tahun, karena ancaman bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Tapi jika tetap ingin tidak menghiraukan imbauan tersebut, terserahlah, ingin merayakan atau tidak pergantian tahun baru,” tegasnya, Sabtu (29/12/2018).

Menurutnya, perlu adanya imbauan tersebut, karena biasanya lokasi yang menjadi tren wisatawan atau pun masyarakat lokal untuk merayakan pergantian tahun berada di kawasan pantai. Terutama di Padang, ada di kawasan Wisata Pantai Padang, Pantai Air Manis Padang, dan ke arah Kabupaten Pesisir Selatan ada Wisata Pantai Carocok Painan. Kini yang lagi populer ada juga Wisata Mandeh.

Tidak hanya di kawasan pantai, di kawasan gunung juga turut jadi lokasi yang strategis. Selama ini, oleh para anak muda, untuk merayakan pergantian tahun baru, biasanya juga melakukan pendakian gunung-gunung yang tinggi. Padahal, melihat kondisi gunung di Sumatera Barat, ada Gunung Berapi yang pernah bergejolak, begitu juga Gunung Talang.

“Jadi saya berharap betul, cukup di rumah saya di malam pergantuan tahun baru. Duduk bersama keluarga. Jika pun ingin tetap bergadang hingga pergantian waktu antara 31 Desember 2018 – 1 Januari 2019, juga bisa di rumah sembari melakukan amal ibadah dan berdoa. Supaya di tahun mendatang Sumatera Barat aman dari ancaman bencana,” katanya.

Kekhawatiran dari Pemprov Sumatera Barat ini, karena mengingat daerah di Sumatera Barat juga disebut dengan daerah yang rawan terjadi bencana. Tidak hanya tsunami dan gempa dengan kekuatan yang besar diprediksi akan terjadi, Sumatera Barat juga sering dilanda banjir bandang, tanah longsor, dan bencana lainnya.

“Saya ada membaca hasil penelitian pihak LIPI bahwa dengan kondisi alam saat ini, apabila terjadi gempa dengan durasi 10 detik saja, mau pelan atau pun kuat guncangannya, harus segera melakukan evakuasi. Karena soal tanda-tanda tsunami air laut surut, tidak bisa lagi jadi patokan utama atau penentu terjadinya tsunami,” ujarnya.

Terkait adanya isu bencana yang terus mengepung sejumlah daerah di Indonesia, Nasrul meminta kepada masyarakat supaya tidak panik. Karena bagaimana pun juga persoalan terjadi atau tidaknya bencana di suatu daerah, adalah kehendak yang Maha Kuasa. Berbicara di Sumatea Barat, daerahnya memanglah gudang bencana.

“Sumatera Barat harus siap menghadapi bencana yang tejadi, karena daerah Sumatera Barat rawan bencana,” sebutnya.

Tidak hanya persoalan perayaan pergantian tahun yang menjadi kekhawatiran Kepala Daerah di Sumatera Barat. Akibat adanya ragam bencana itu, juga turut membuat khawatir kondisi kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat. Karena isu bencana diperkirakan dapat mempengaruhi keinginan wisatawan datang ke Sumatera Barat.

“Selaku masyarakat yang tinggal di Sumatera Barat seharusnya meredam informasi isu bencana itu. Supaya tidak berpengaruh terhadap pariwisata di Sumatera Barat. Intinya, sampai saat ini kondisi di Sumatera Barat dengan kondisi bencana yang terjadi di berbagai deerah, masih terbilang kondusif,” jelasnya.

Lihat juga...