Bengkayang Cegah Eksploitasi dan Perdaganggan Anak

Pentas tari, salah satu kegiatan anak sekolah, ilustrasi -Dok: CDN

PONTIANAK – Kasus eksploitasi dan perdagangan anak di Kabupaten Bengkayang, Kalbar, masih tinggi. Hal itu, menjadi perhatian serius pemerintah daerah setempat.

“Data yang ada, kasus eksploitasi dan perdagangan anak di Bengkayang terbesar kelima di Kalimantan Barat. Hal itu karena Bengkayang ini bisa menjadi persinggahan dari berbagai daerah, dan bisa juga menjadi daerah pengirim. Itu tidak terlepas pengaruh Bengkayang yang berbatasan darat langsung dengan negara Malaysia,” ujar Kepala Bidang Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak DSP3APM, Bengkayang, Liberti Nungkat, Sabtu (8/12/2018).

Menurutnya, kasus eksploitasi dan perdagangan anak, satu diantaranya, terjadi dengan modus memanipulasi data. Dari banyak kasus yang terjadi, orang yang membawa atau bahkan anak itu sendiri, melakukan pemalsuan data, agar bisa berangkat ke Malaysia.

Bahkan, perubahan data, ada yang dilakukan dengan sengaja oleh anak yang menjadi korban. “Misalnya usianya belum mencapai 17 tahun ke atas, tapi di dokumennya diubah menjadi 20 tahun ke atas. Hal itu berlangsung, dan terus dilakukan supaya bisa masuk. Padahal itu jelas sudah mengekploitasi anak,” jelasnya.

Dengan persoalan tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), bekerjasama dengan pemerintah daerah, dan lembaga konsultasi bantuan hukum perempuan dan keluarga Kalimantan Barat, bersama membentuk Komunitas Peduli Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (KP3 TPPO).

Lihat juga...