Beras dan Gula Bulog Cukup Hingga Pertengahan 2019

Editor: Mahadeva WS

145
Kepala Bulog Divre Sumatera Barat, Suharto Djabar - Foto M Noli Hendra

PADANG – Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Sumatera Barat (Sumbar), menjamin kebutuhan beras di daerah tersebut dapat tercukupi hingga Juli 2019. Stok beras yang tersimpan di gudang Bulog saat ini mencapai 16 ribu ton.

Kepala Bulog Divre Sumatera Barat, Suharto Djabar, mengatakan, banyaknya stok beras di gudang, karena produksi padi di daerah tersebut cukup bagus. Dan Bulog, turut membeli gabah dari petani di sejumlah daerah di Sumatera Barat. “Jadi dikarenakan 2019 adalah tahun politik, jadi tidak ada alasan bagi pihak-pihak yang ingin mempolitisasi kondisi beras. Karena ketersediaan beras yang ada saat ini, cukup hingga usai pilpres 2019,” tegasnya, Sabtu (8/12/2018).

Begitu juga untuk perayaan Tahun Baru dan Natal, dengan stok yang ada, Bulog siap memenuhi permintaan beras. Namun, jika terjadi gejolak harga beras, Bulog akan turun dengan cara melaksanakan Operasi Pasar (OP) di sejumlah daerah. OP merupakan cara yang dinilai ampuh, untuk menekan harga di pasar. Melihat kondisi di tahun-tahun sebelumnya, pada masa Natal dan Tahun Baru, harga barang tidak begitu terpengaruh.

“Kalau sudah OP, tidak hanya beras yang kita jual, komoditas lainnya juga ada, seperti cabai merah, minyak goreng, telur ayam, dan komoditas lainya,” tuturnya.

Suharto menyebut, beras yang dijual Bulog untuk beras medium harganya Rp8.600 per kilogram. Beras premium, dijual Rp9.600 per kilogram. Harga tersebut, masih dibawah HET beras, dan di bawah harga di pasar. “Kalau sampai saat ini, persoalan gejolak beras belum ada laporan yang masuk. Artinya kondisi harga beras terbilang stabil. Namun kita tetap mengawal, jika terjadi gejolak harga, kita langsung melakukan operasi pasar,” tegasnya.

Sementara stok gula, saat ini ada sebanyak 250 ton. Jumlah itu diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga Maret 2019. Pada Tahun Baru dan Natal, Bulog Sumbar siap memenuhi kebutuhan gula di wilayah Sumatera Barat.

Suharto menyebut, di Sumatera Barat, kebutuhan gula cukup besar. Tidak hanya untuk masyarakat yang berjualan kopi dan teh di warung, gula juga cukup banyak dijadikan adonan membuat kue di sejumlah daerah di Sumatera Barat.  Untuk itu, Bulog perlu memperhatikan betul stok gula di gudang. Namun, jika nanti ada over order, Bulog akan berupaya mendatangkan gula dari berbagai daerah di Indonesia. “Artinya kita di Bulog, mau tidak mau harus siap soal stok kebutuhan pokok masyarakat. Semoga dengan stok yang ada saat ini, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” harapnya.

Dari pengamatannya, dua tahun belakangan, di Sumatera Barat harga komoditas masih terkendali. Sebelumnya momentum hari besar agama biasa menjadi penyumbang inflasi. Tapi sekarang, harga komoditas tidak lagi jadi penyumbang inflasi.  Khusus di Padang, penyumbang inflasi adalah, harga barang yang dijual pasar ritel atau di mall. Berubahnya gaya masyarakat untuk berbelanja di pasar ritel, berdampak kepada inflasi di Padang.

Baca Juga
Lihat juga...