BMKG Prakirakan Malam Tahun Baru di Sumbar, Hujan

Editor: Koko Triarko

341

PADANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Minangkabau, memprakirakan hujan disertai gelombang laut akan melanda sejumlah wilayah di Sumatra Barat, pada malam pergantian tahun nanti. 

Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Minangkabau, Yudha Nugraha, menjelaskan untuk kondisi cuaca hari ini, sebagian daerah di Sumatra Barat sudah dua hari terakhir mulai nampak kembali pertumbuhan awan-awan hujan.

Dengan demikian, kondisi cuaca cenderung berawan, namun lembab pada siang hari dan terdapat potensi hujan ringan-sedang, durasi singkat pada malam pergantian tahun.

“Dari pantuaan radar cuaca per hari ini, sore – malam pergantian tahun nanti sejumlah wilayah di Sumatra Barat diguyur hujan dengan intensitas ringan, dan durasi yang tidak terlalu lama,” katanya, Senin (31/12/2018).

Menurutnya, meski hujan diprakirakan berintensitas ringan, perlu diwapadai adanya potensi gelombang laut. Sementara, angin kencang diprakirakan masih dalam keadaan normal.

“Kalau soal potensi hujan, betul sekali bahwa pada pergantian tahun nanti diprediksi akan diguyur hujan. Termasuk juga di daerah Kota Padang, Bukittinggi, dan Padang Pariaman, yang berkemungkinan diguyur hujan,” ujarnya.

Menurutnya, kecepatan angin tidak terlalu signifikan, maksimal angin hingga 20 km/jam. Hanya, untuk gelombang laut, BMKG memantau cukup tinggi di perairan Kepulauan Mentawai, dengan ketinggian maksimum 1,5 – 2,5 meter.

“Memang, sejauh ini baru laut di Kepulauan Mentawai yang perlu diwaspadai. Tapi, tidak tertutup kemungkinan juga berpotensi terjadi di perairan laut daerah lainnya di Sumatra Barat, seperti Padang, Pesisir Selatan, dan dan Pariaman,” ucapnya.

Yudha menegaskan, cuaca yang diprakirakan BMKG tidak memiliki potensi bencana yang signifikan. Namun. bila ada yang merayakan pergantian tahun baru, mungkin dapat terganggu dengan potensi hujan yang terjadi pada malam hari.

“Yang namanya bencana kita tidak tahu kapan datangnya dan di mana lokasinya. Intinya, perlu selalu waspada. Karena sedikit saja terjadi perubahan cuaca, maka dampaknya pun tidak bisa diterka,” tegasnya.

Mengiringi kondisi cuaca yang demikian, Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, mengatakan, lepas dari persoalan isu bencana yang terus mengepung Indonesia, perayaan pergantian tahun baru bukanlah budaya Indonesia, apalagi di Sumatra Barat. Seperti  memainkan kembang api dan meniupkan trompet di detik-detik pergantian tahun.

“Kita dari provinsi telah menyampaikan ke kepala daerah di kabupaten dan kota, untuk itu tidak perlu merayakan pergantian tahun, karena ancaman becana bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Tapi, jika tetap ingin tidak menghiraukan imbauan tersebut, terserah ingin merayakan atau tidak pergantian tahun baru,” tegasnya.

Menurutnya, perlu adanya imbauan tersebut, karena biasanya lokasi yang menjadi tren wisatawan atau pun masyarakat lokal yang selama ini telah merayakan pergantian tahun, berada di kawasan pantai.

Terutama di Padang, ada di kawasan Wisata Pantai Padang, Pantai Air Manis Padang, dan ke arah Kabupaten Pesisir Selatan ada Wisata Pantai Carocok Painan dan kini yang lagi populer ada Wisata Mandeh.

Tidak hanya di kawasan pantai, di kawasan gunung, juga turut menjadi lokasi yang strategis, untuk merayakan pergantian tahun baru, yaitu melakukan pendakian gunung-gunung yang tinggi. Padahal, melihat kondisi gunung di Sumatra Barat, ada Gunung Merapi yang pernah batuk-batuk, begitu juga Gunung Talang.

“Jadi, saya berharap betul, cukup di rumah saja di malam pergantuan tahun baru itu. Duduk bersama keluarga, jika pun ingin tetap bergadang hingga pergantian waktu antara 31 Desember 2018 – 1 Januari 2019, juga bisa di rumah sembari melakukan amal ibadah dan berdoa, supaya di tahun mendatang Sumatra Barat aman dari ancaman bencana,” katanya.

Kekhawatiran dari Pemprov Sumatra Barat ini, karena mengingat daerahnya rawan terjadi bencana. Tidak hanya tsunami dan gempa dengan kekuatan yang besar, namun juga banjir bandang, tanah longsor, dan bencana lainnya.

“Saya ada membaca hasil penilitian pihak LIPI, bahwa dengan kondisi alam saat ini, bila terjadi gempa dengan durasi 10 detik saja, mau pelan atau pun kuat guncangannya, harus segera melakukan evakuasi. Karena soal tanda-tanda tsunami air laut surut, tidak bisa lagi jadi patokan utama penentu terjadinya tsunami,” ujarnya

Baca Juga
Lihat juga...