BPBD Gorontalo Utara Imbau Nelayan Waspadai Gelombang Tinggi

350

GORONTALO  – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, mengimbau para nelayan di daerah itu mewaspadai gelombang tinggi yang melanda wilayah perairan tersebut.

“Jika angin kencang dan gelombang tinggi melanda, apalagi ketinggiannya di atas 50 senti meter, sebaiknya para nelayan berhati-hati atau menunda untuk melaut agar tidak mengalami kondisi yang tidak diinginkan,” ujar Kepala Seksi Pencegahan BPBD Gorontalo Utara, Yayan, di Gorontalo, Sabtu.

Menurutnya, sesuai informasi resmi yang dikutip dari pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa keadaan cuaca di wilayah Provinsi Gorontalo, khususnya di kabupaten itu, sedang dalam masa puncak musim hujan yang diperkirakan akan terjadi hingga Januari 2019.

Curah hujan di daerah ini sesuai informasi dari pihak BMKG, kata Yayan, tipikalnya memang tinggi dengan potensi cuaca buruk berupa hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir.

“Nelayan wajib mewaspadainya, agar musibah perahu dihantam gelombang tinggi tidak terjadi,” ujar Yayan.

Imbauan itu, kata dia, perlu diinformasikan secara luas, mengingat beberapa insiden dialami nelayan di daerah itu akibat nekad melaut, seperti hanyut terseret arus, perahu terbalik dihantam gelombang, termasuk nelayan hilang tidak ditemukan, masih terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Pihak BMKG pun, seperti dikutip BPBD, kata Yayan, menyatakan, jika pada akhir Desember ini, terjadi propagasi oleh angin “monsoon” dari wilayah Asia yang semakin menguat belakangan ini, sehingga massa udara (angin) dari arah utara semakin kencang.

Kuatnya tiupan angin dari arah utara, berakibat naiknya gelombang yang kebetulan untuk wilayah Gorontalo Utara, berhadapan langsung dengan wilayah laut Sulawesi yang juga berhubungan dengan laut lepas Samudera Pasifik.

Selain angin yang terus menerus (steady) dari arah utara ini, arus laut (swell) pun saat ini diprediksi juga dari arah laut Fasifik mengarah ke selatan Indonesia.

Hal itulah yang menciptakan penguatan gelombang di wilayah laut Sulawesi di sebelah Utara Gorontalo, termasuk pada beberapa hari lalu atau 22-24 Desember 2018, juga terjadi pasang maksimum air laut yang diakibatkan oleh fase bulan purnama.

Jadi gabungan beberapa faktor itulah yang menyebabkan peristiwa limpasan air laut yang masuk ke wilayah pantai atau yang dalam istilah meteorologi disebut banjir rob.

Yayan mengatakan, informasi itu dikutip dari penyampaian Fatuhri, prakirawan BMKG, yang menjelaskan jika peristiwa itu adalah murni diakibatkan faktor cuaca dan bukan tsunami.

Pihak BPBD, kata Yayan, terus memperbarui informasi cuaca dan kondisi gelombang di perairan itu melalui informasi resmi pihak BMKG, serta langsung meneruskan ke pemerintah kecamatan dan desa, untuk disebarluaskan kepada masyarakat.

Dengan begitu, masyarakat langsung memperoleh informasi resmi dan akurat dari pihak BMKG, agar tidak menimbulkan kekhawatiran ataupun kecemasan meski sangat dianjurkan untuk waspada. Khususnya mereka yang bermukim dekat dari tepi pantai. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...