Budaya Baduy, Mempertahankan yang Alami

Editor: Satmoko Budi Santoso

LEBAK – Suku Baduy salah satu suku yang cukup tua di Indonesia. Mereka masih mempertahankan gaya hidup tradisional, tanpa sentuhan teknologi modern.

Mempertahankan budaya leluhur menjadi adab masyarakat Suku Baduy Dalam. Falsafah yang tertanam jika mereka sudah ikut modernisasi maka tidak akan bisa  kembali ke adat leluhur.

Secara teritorial, Suku Baduy hidup di Desa Kanekes, kaki Gunung Kendeng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa adat Baduy terbagi dua, yakni Baduy Luar dan Kampung Baduy Dalam. Baduy Dalam memiliki tiga kampung, yakni kampung Cibeok, Cikartawana, dan Cikeusik, sampai saat ini masih mempertahankan budaya.

Warga Baduy Dalam hidup tanpa listrik, perabotan rumah pun dibuat dari bahan alami. Seperti tempat minum terbuat dari bambu, piring dan sendok dari kayu. Bangunan rumah semua menggunakan bahan alam tanpa ada satu pun paku digunakan.

“Kampung Cibeok memiliki 108 rumah dan 147 KK dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 620 jiwa. Cikartawana hanya 28 rumah dan 200 orang, di Cikeusik ada 76 rumah,” ujar Safri, penduduk asli Baduy Dalam, saat membimbing Cendana News masuk ke kampung Cibeok.

Safri warga Baduy Dalam – Foto Muhammad Amin

Dikatakan, untuk membedakan Baduy Dalam dan Luar terlihat dari pakaian. Baduy Luar lebih bebas mengenakan pakaian apa pun. Sedangkan Baduy Dalam, memiliki pakaian khusus, dan tidak mengenakan alas kaki dalam kondisi apa pun.

Mereka memiliki adat sendiri dan selalu membawa tas putih dari kain tenun, dipadu ikat kepala putih yang mereka kenakan. Busana serba putih ini pertanda mereka masih suci dalam menjalankan adat istiadat leluhur.

Antara Baduy Dalam dan Luar dipisahkan oleh jembatan penyeberangan. Saat berada di Baduy Dalam, siapa pun tidak diperkenankan menggunakan alat modern. Pengunjung tidak diperbolehkan mengeluarkan dan menggunakan handphone, termasuk merekam dan memotret.

Aturan lain siapa pun pengunjung tidak diperkenankan mandi dengan menggunakan sabun, sikat gigi dengan odol dan peralatan mandi lainnya. Tidak ada toilet, kakus untuk buang hajat bisa langsung di sungai yang mengelilingi Kampung Baduy Dalam.

“Bahan bangunan juga salah satu pembeda rumah orang Baduy Dalam. Tidak ada satu pun menggunakan paku. Semua dikerjakan dengan menggunakan bahan alam, seperti diikat,” papar Safri.

Warga Baduy Dalam begitu sederhana dan menyatu dengan alam. Sebagian besar masyarakat Baduy adalah sebagai petani padi. Di kampung Baduy tidak ada tanaman singkong atau pohon cengkeh. Begitu pun hewan peliharaan, tidak ada peternakan di Kampung Baduy. Mereka terikat adat dan harus patuh dengan kepala adat.

Anak kampung Baduy sebagai sampingan saat musim libur berjualan di depan rumah seperti gorengan, madu dan minuman. Foto Muhammad Amin

Meski ramah dan menerima siapa pun yang datang untuk melihat dari dekat  budaya Baduy, tetapi warga Baduy Dalam tidak mengizinkan orang luar negeri  sampai ke Kampung Baduy Dalam. Keputusan tersebut menjadi ketentuan adat, jika dilanggar maka orang tersebut segera diusir.

Suku Baduy Dalam memiliki tetua adat. Untuk ketua adat disebut puun, mengatur semua tata kelola kampung Baduy Dalam. Posisi kedua disebut jaro yang juga menyelesaikan beberapa urusan. Jika ingin bertemu puun, tidak sembarangan.

Harus membuat janji dan menentukan tujuan sebelum bertemu. Semua pekarangan rumah di Kampung Baduy Dalam bisa dilintasi. Tetapi pekarangan tempat kediaman puun sudah dipagari dengan batas bambu siapa pun tidak boleh melintas.

“Biasanya jika hanya untuk ngobrol-ngobrol saja, puun tidak  cukup dengan warga lain atau jaro saja. Baduy aliran kepercayaannya ada Sunda Wiwitan, memiliki ritual tersendiri,” jelas Safri yang mengakui puun biasanya jika pagi sudah ada di gubuk perkebunannya.

Keindahan panorama alam hijau yang berpadu dengan kearifan lokal menjadi nilai tambah saat berkunjung ke kampung adat Baduy.

Untuk menuju Kampung Baduy Dalam, dari kampung pertama Kampung Belimbing, diperlukan waktu sekira empat jam berjalan kaki. Untuk menuju Baduy Dalam akan dibimbing salah satu warga, menyusuri jalur setapak berbukit. Hanya ada batu atau hanya ada tanah.

Sesekali akan bertemu jembatan penyeberangan yang terbuat dari bambu dan hanya diikat menggunakan  ijuk. Tetapi selama menuju Baduy Dalam hamparan perbukitan dan panorama alam akan ternikmati.

Keseharian di kampung Baduy. Selain bertani wanita bertenun dan memintal benang untuk dijadikan bahan kain khas Baduy. Foto Muhammad Amin

Jika di kawasan Baduy Luar, akan melintasi Kampung Gazebo, di jalan akan melihat warga asli menenun baik tua atau muda. Di sini sudah mulai terlihat lahan pertanian padi darat di perbukitam. Padi di sini hanya menggunakan pupuk alami dari daun mengkudu, ditumbuk kemudian disiram ke tanaman.

Setelah melalui perjalanan melelahkan, maka akan tiba di Kampung Baduy Dalam. Terlihat sunyi, dihuni suku Baduy yang ramah. Tak jarang pengunjung akan menjadi perhatian oleh anak atau pun ibu-ibu. Saat malam, tidak ada penerangan satu pun di luar rumah. Lampu teplok menggunakan bahan bakar minyak kelapa hanya ada di dalam rumah.

“Semua lampu harus dimatikan jika sudah tidur. Hal ini untuk menghindari terjadi kebakaran,” ungkap Safri.

Saat musim libur panjang dan Natal, Kampung Baduy diserbu ribuan pengunjung baik dari kampus, sekolah dan umum. Areal parkir hingga ke jalan umum mengantre panjang. Saat ini, di Kampung Baduy sedang musim durian, harganya pun cukup terjangkau.

Lihat juga...