Budi Daya Lele Kolam Terpal di Lamsel Semakin Berkembang

Editor: Mahadeva WS

323

LAMPUNG – Hujan mulai turun rutin di Lampung Selatan (Lamsel), membawa berkah bagi pembudidaya ikan air tawar jenis lele.

Slamet (59), pembudidaya ikan lele di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lamsel, membuat kolam ikan menggunakan terpal plastik di halaman rumah. Usaha tersebut telah dilakukan lebih dari satu tahun terakhir. Hujan yang mulai rutin turun, membuat pasokan air untuk kolam ikan menjadi melimpah. Slamet, memiliki 10 kolam ikan terpal, untuk budi daya lele jenis masamo. Di tahap awal, benih yang ditebar berjumlah 25.000 ekor.

Di kolam terpal dengan dinding penyangga bambu, setiap kolam mendapatkan tebaran bibit ikan lele secara bervariasi. Mulai dari usia hingga jumlah bervariasi, agar bisa dipanen sesuai kebutuhan. Selain lele jenis masamo, Slamet juga mengembangkan lele jenis sangkuriang di kolam miliknya. “Setiap jenis lele, memiliki kelebihan dan kekurangan. Terutama daya tahan terhadap perubahan cuaca dan penyakit, kegagalan yang pernah saya alami, dengan tingkat kematian tinggi akibat perubahan cuaca, sehingga saya kembangkan dua jenis lele sekaligus,” beber Slamet saat ditemui Cendana News.

Ikan lele jenis sangkuriang disebut Slamet, memiliki sifat kanibal yang lebih rendah, dibandingkan jenis lain. Sebaliknya, lele jenis masamo, memiliki daya tahan lebih rendah, selama musim penghujan. Saat penghujan tiba, Slamet membudidayakan lele jenis sangkuriang di tiga kolam. Kolam yang dipersiapkan berupa kolam semen, kolam terpal, kini ditambah dengan kolam bundar dengan sistem bioflok.

Pengembangan kolam terpal jenis bioflok, bantuan dari salah satu warga, menjadi alternatif usaha pengembangan ikan air tawar di wilayah tersebut. Pada budidaya kolam terpal yang sudah dijalankan, Slamet memiliki satu siklus budidaya lele dengan hasil yang menjanjikan. Pada satu kolam lele, dengan jumlah tebar 2.000 ekor bibit, Dia bisa mendapatkan hasil 100 hingga 200 kilogram. Proses pemanenan, dilakukan dengan sistem sortir. Perkilogram ikan lele konsumsi, rata-rata berisi tujuh hingga delapan ekor lele.

Satu kilogram ikan lele, di tingkat pengepul dihargai Rp20.000. Sementara di tingkat pembudidaya, harganya Rp18.000 perkilogram. Satu kali panen, hasil rata-rata 100 kilogram, untuk usia panen tiga bulan, Slamet mengantongi Rp1,6 juta. Lele masih banyak diminati, biasa dikonsumsi untuk kebutuhan kuliner pecel lele. Budi daya yang dilakukan, mengandalkan pakan buatan jenis pur atau pelet ikan.

Perhitungan keuntungan budi daya ikan lele, cukup menguntungkan sebagai usaha sampingan. Laki-laki yang memiliki usaha pokok jual beli pisang tersebut, hanya memanfaatkan lahan yang terbatas di rumahnya. Musim hujan, membuat pasokan air yang melimpah menjadi keuntungan bagi warga pembudidaya ikan. Air dari saluran irigasi yang lancar, sekaligus air hujan, membuat kolam bisa mendapatkan pasokan air sepanjang waktu.

Adi Yulianto (26), salah satu anak laki lakinya juga ikut membantu usaha budi daya ikan lele. Selain menggunakan pakan jenis pelet pabrikan, budi daya juga dilakukan dengan menerapkan pemberian pakan alami, jenis lemna minor dan azola. Dua jenis tanaman air, yang dikenal dengan kiambang tersebut, membantu efesiensi biaya pakan. “Budidaya ikan lele dengan sistem kolam terpal memiliki waktu singkat, sehingga solusi pakan untuk penggemukan menjadi alternatif untuk memperoleh keuntungan,” tambah nya.

Selain untuk pasokan kebutuhan lokal, sebagian ikan hasil panen dikirim ke wilayah Banten dan Jakarta. Konsumennya adalah para pengusaha kuliner.

Baca Juga
Lihat juga...