Cegah Stunting, Perlu Perhatian Asupan Gizi Bayi

Editor: Satmoko Budi Santoso

MATARAM – Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat, Hj. Siti Rohmi Djalilah, mengatakan, salah satu penyebab masih tingginya angka stunting atau pertumbuhan pendek pada anak adalah kurangnya asupan makanan bergizi dan bernutrisi.

“Masalah asupan makanan bergizi pada anak menjadi salah satu penyebab stunting di NTB, termasuk gizi buruk,” kata Rohmi di Mataram, Jumat (14/12/2018).

Padahal, untuk memenuhi asupan gizi anak, tidak harus dengan membeli makanan mahal. Banyak makanan yang terdapat di lingkungan sekitar bisa  dimanfaatkan untuk pemenuhan gizi anak.

Sayur kelor, misalnya, termasuk jenis sayuran yang banyak mengandung vitamin. Berguna bagi pemenuhan gizi anak. Termasuk bayam dan beberapa jenis sayuran yang bisa didapatkan di lingkungan sekitar.

“Banyak sekali sayuran yang terdapat di lingkungan sekitar, bisa dimanfaatkan untuk memenuhi asupan gizi anak. Terutama di daerah pedesaan. Tapi kurangnya pemahaman dan pengetahuan ibu-ibu, jadi salah satu penyebab kurang gizi,” katanya.

Rohmi menambahkan, saat ini Pemda NTB terus berupaya maksimal melakukan penanganan masalah stunting di NTB dengan menggandeng kader posyandu untuk melakukan deteksi dini.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya dalam mendukung pencapaian SDG’s. Tujuh belas indikator yang menjadi target SDG’s di antaranya yaitu masyarakat tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, hidup sehat, sejahtera, pendidikan yang berkualitas, dan kesetaraan gender.

Untuk mencapai target tersebut, semua kalangan harus mengambil peran dan bagian, terutama kalangan ibu-ibu, sebagai motor utama tercapainya target tersebut.

“Selain masalah makanan, masalah kebersihan lingkungan, pemukiman layak, akses air bersih dan sanitasi, juga merupakan faktor pendukung,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan NTB, Nurhandini Eka Dewi, mengatakan, jumlah kasus stunting di NTB mencapai 150 ribu anak. Ia menjelaskan, stunting sendiri merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga tubuh anak terlalu pendek, tak sepadan usia.

Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, atau dalam 1000 hari pertama kehidupan. Namun, stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan penurunan produktivitas.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar 2007, rata-rata tinggi badan anak yang lahir di NTB minus satu standar deviasi (SD) yang dalam kartu menuju sehat (KMS) masuk kategori kuning atau tidak normal.

Menurutnya, potensi stunting sudah muncul sejak dalam kandungan, maka kalau hendak mengatasi bukan pada anaknya. Melainkan sejak ibu hamil trimester pertama harus diawasi gizinya.

Lihat juga...