Damkar: Bojonegoro Rawan Kebakaran Pemukiman

Ilustrasi -Dok: CDN

BOJONEGORO – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro, Jawa Timur, mewaspadai ancaman kebakaran pemukiman dibandingkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan alasan lebih rawan terjadi dibandingkan karhutla.

Kepala Bidan Pemadaman Dinas Damkar Bojonegoro, Sukirno, mengatakan, kalau musim kemarau karhutla lebih banyak terjadi, dibandingkan kebakaran pemukiman, karena cuaca yang panas.

“Kebakaran pemukiman selama ini lebih banyak disebabkan faktor hubungan arus pendek listrik PLN, selain kompor gas,” katanya, Rabu  (19/12/2018).

Menurutnya, banyak kabel listrik PLN pemukiman warga di pedesaan yang tidak standar. Karena itu, kabel listrik tidak standar itu memicu terjadinya hubungan arus pendek listrik, yang berujung kebakaran.

Ia juga memberikan gambaran kebakaran yang disebabkan kompor gas di Kecamatan Dander, mengakibatkan jatuhnya korban jiwa manusia.

Dalam kejadian kebakaran pemukiman di desa setempat, pemilik rumah yang sedang mengganti gas elpiji tidak bisa dengan tepat sehingga gas di elpiji bocor. Pemilik rumah kemudian memasukkan tabung elpiji ke dalam kamar mandi, tapi gas masih tetap keluar.

“Bersamaan dengan itu, di rumah itu pemilik rumah juga memasak dengan api kayu bakar. Ketika pintu kamar mandi dibuka, kemudian api menyambar gas dan meledak. Akibatnya, pemilik rumah terbakar hingga meninggal dunia,” jelasnya.

Berdasarkan data di BPBD, pada 2018 telah terjadi 162 kebakaran mulai pemukiman, toko, pasar, juga bangunan lain, termasuk karhutla dengan kerugian mencapai Rp6,5 miliar per 19 Desember 2018.

“Dalam kejadian kebakaran itu, ada 18 kebakaran di luar daerah, seperti Tuban, Lamongan dan Blora, Jawa Tengah,” ucap dia.

Kerugian kebakaran 2018, lebih besar dibandingkan pada 2017, dengan 101 kali kejadian kebakaran dengan rincian, 49 kebakaran pemukiman, 28 karthutla, 19 kebakaran tempat usaha, juga kebakaran lainnya. (Ant)

Lihat juga...