Dana Desa di Kecamatan Sungai Pandan untuk Tingkatkan Keterampilan

190
Ilustrasi Dana Desa - Dok:CDN

AMUNTAI — Aparat desa di Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, memanfaatkan dana desa untuk meningkatkan keterampilan masyarakat terutama kaum perempuan sebagai modal merintis usaha.

Kepala Desa Banyu Tajun Dalam, Uti Pansyah, mengatakan, salah satu pelatihan keterampilan yang diberikan adalah mengolah makanan dari bahan pertanian. Biasanya, para wanita di desa setelah musim tanam, tidak memiliki kegiatan yang bisa menghasilkan uang.

“Melalui pelatihan tersebut, kami harap, akan mampu membuka peluang kerja bagi para perempuan desa, sehingga bisa membantu perekonomian keluarga,” katanya di Amuntai, Selasa (4/12/2018).

Menurut Uti, pada wilayah-wilayah industri kecil pembuatan mebel aluminium sebagian besar buruh tani wanita mengisi masa jeda tanam padi dengan bekerja sebagai tenaga lepas di industri-industri aluminium tersebut.

Namun, bagi kaum wanita di Desa Banyu Tajun, yang sebagian besar bertani, hanya sedikit yang memiliki usaha industri kecil.

Melihat persoalan tersebut, aparat desa dan warga masyarakat, sepakat memanfaatkan dana desa untuk program peningkatan sumber daya manusia, melalui berbagai pelatihan.

Salah satu desa di Kecamatan Sungai Pandan Alabio Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), mengalokasikan Dana Desa 2018 untuk pelatihan membuat aneka makanan olahan berupa nuget dan bakso.

Pelatihan dengan menggandeng Lembaga Pelatihan Kerja Sentra Mitra Karya (LPK Semitra) Amuntai, sebuah lembaga resmi yang menyelenggarakan kursus dan pelatihan dengan tenaga instruktur/pelatih yang memiliki kompetensi.

Ketua Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Juhri menambahkan, melalui pengelolaan dana desa, pihaknya juga telah melaksanakan pelatihan mekanik atau bengkel bagi para remaja desa di 2017.

“Tahun ini pelatihan bagi kaum wanita, rencananya 2019 pelatihan juga akan dilaksanakan bagi kaum pria dewasa,” terangnya.

Instruktur dari LPK Semitra Ika Damayanti mengatakan, agar pelatihan untuk wanita dan remaja puteri dalam mengolah nuget dan bakso ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah daerah seperti Disperindagkop dan UKM dengan pelatihan kemasan produk.

“Untuk pengembangan usaha kaum wanita di desa, bisa dibantu pemasaran dengan pelatihan pengemasan produk,” kata Ika.

Ditambahkannya, pelatihan yang diberikan masih terbatas pada cara pengolahan hasil pertanian untuk membuat nuget dan bakso, yang dijual secara tradisional di warung kaki lima.

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Amuntai semester lima ini sudah melakoni sendiri berjualan produk nuget dan bakso yang hasilnya sangat lumayan.

“Masyarakat saat ini cukup menggemari masakan olahan dari bahan ayam, ikan dan daging,” katanya.

Pelatihan bikin nuget dan bakso dari bahan ikan dan ayam ini dilaksanakan selama 20 hari ke depan oleh pihak LPK Semitra, dengan jadwal pelatihan dimusyawarahkan dengan 14 peserta. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...