Delapan Anak di Sikka Positif Tertular HIV

Editor: Satmoko Budi Santoso

169

MAUMERE – Sebanyak 8 anak-anak di Kabupaten Sika dipastikan terjangkit virus HIV yang ditularkan dari ibu si anak tersebut yang dipastikan positif mengidap virus HIV. Hal itu diketahui saat dilakukan pemeriksaan di klinik VCT (Volluntary Consulting and Testing) RSUD TC Hillers Maumere.

“Sejak bulan Januari sampai November 2018, hasil tes HIV di klinik VCT ditemukan 71 kasus baru HIV. Delapan di antaranya anak-anak dan 63 orang dewasa,” sebut dr. Asep Purnama, S.Pd, pegiat HIV dan AIDS di Sikka, Senin (3/12/2018).

Dikatakan Asep, adanya anak yang terjangkit virus HIV terindikasi tertular dari ibunya. Dari 71 kasus positif HIV tersebut, sebagian besar berasal dari Sikka. Sementara sisanya berasal dari kabupaten lainnya di Pulau Flores.

“Kalau ibunya dites dan diketahui statusnya HIV positif sejak awal, maka bisa dilakukan upaya pencegahan agar bayi yang dilahirkan tidak tertular HIV. Sangat disayangkan sekali, bayi yang tidak tahu apa-apa terpaksa harus terjangkit virus HIV,” ungkapnya.

Semenjak pertama kali ditemukan virus HIV dan AIDS di Sikka, hingga bulan Agustus 2018, tercatat total sudah 723 orang yang mengidap virus HIV dan AIDS. Dari jumah itu, pengidap HIV sebanyak 224 orang dan AIDS 499 orang serta sebanyak 188 orang meninggal dunia.

“Kita berharap masyarakat bisa sejak awal memeriksakan dirinya di klinik VCT yang ada di rumah sakit maupun di Puskesmas, agar sejak awal bisa diketahui dan diberikan pengobatan. Jangan sampai sudah berstatus AIDS baru diketahui,” harapnya.

Dokter Asep mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka yang sangat gencar memberikan sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat. Buah dari sosialisasi, banyak masyarakat yang memeriksanakan diri dan kasus yang ditemukan semakin meningkat.

“Fenomena penyakit ini ibarat gunung es. Banyak sekali yang belum terungkap. Kebiasaan merantau dan berhubungan seks dengan pekerja seks komersil tanpa alat pelindung, menyebabkan banyak warga Sikka tertular virus HIV,” paparnya.

Yuyun Darti Baetal, staf KPA Kabupaten Sikka menyebutkan, pihaknya memang sangat gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit AIDS di masyarakat, dan diperlukan pemeriksaan dini agar bisa diketahui status kesehatan sebelum terlanjur terkena AIDS.

“Memang kami terus melakukan sosialisasi termasuk membentuk beberapa kelompok Warga Peduli AIDS (WPA) di beberapa kelurahan di Kota Maumere. Adanya WPA membuat masyarakat semakin sadar memeriksaskan diri ke klinik VCT,” tuturnya.

Yuyun berharap agar pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD Sikka bisa mengalokasikan dana yang memadai untuk menunjang kegiatan KPA Sikka. Sebab pihaknya selama setahun hanya mendapatkan alokasi anggaran tidak lebih dari Rp1 miliar.

“Banyak program yang akan dilakukan. Namun karena keterbatasan dana, maka kami mengajak kerjasama dengan desa dan kelurahan agar bisa menggunakan dana desa dan kelurahan. Semakin banyak pihak yang peduli dan terlibat bisa menekan angka penularan HIV dan AIDS di Sikka,” sebutnya.

Saat ini, tambah Yuyun, KPA Sikka merupakan salah satu KPA yang paling aktif dan memiliki banyak kegiatan kreatif dan produktif di seluruh NTT, selain kota Kupang. Saat ini, KPA Atambua juga mulai gencar melakukan sosialisasi.

“Gencarnya sosialisasi dan penyadaran, memberi dampak kasus HIV dan AIDS di Sikka justru terungkap semakin tinggi. Sebab selama ini, banyak yang tidak mau memeriksakan diri. Adanya sosialisasi, perlahan warga sudah mulai memeriksakan kesehatan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...