Desi, Penjaja Donat yang Hidupi Empat Orang Anak

Editor: Mahadeva

257

PADANG – Seorang anak berlari riang, bersorak mengiringi ibunya mengayuh sepeda di halaman rumah. “Hore, ibu punya sepeda baru, ibu bisa cari duit, hore, ibu punya sepeda baru,”  sorak sang anak. Sorakan tersebut, membuat wajah si ibu tersipu malu.

Sang ibu membawa sepeda baru ke rumah. Sepeda yang dikendarai itu, bukanlah sepeda pada umumnya, yang biasa digunakan untuk bersantai. Seperti yang terucap dari sorakan si anak, sepeda yang dikendarai sang ibu tersebut untuk mencari uang. Artinya, sepeda yang dikendarai, telah dimodifikasi sebagai sarana berjualan.

Lalu, siapa ibu yang beruntung itu, dan telah membuat anaknya berlari riang mengikuti dari belakang di saat sang ibu mengendarai sepeda yang telah dimodifikasi tersebut? Perempuan bernama Desi (37), dengan status ditinggal suami tersebut, adalah seorang ibu dengan empat orang buah hati.

Empat anak yang dinafkahi itu masing-masing, Putri yang berusia 11 tahun dan masih duduk kelas 6 SD. Fahri berusia 9 tahun, dan duduk di kelas 2 SD. Selanjutnya ada Rasyid berusia 5 tahun, yang seharusnya sudah masuk TK tapi terkendala biaya. Dan masih menunggu waktu hingga bisa masuk SD. Keempat adalah, Farlan, yang berusia 3 tahun.

Desi saat mengendarai sepeda yang diiringi anak-anaknya sambil disorakan dengan suara lantang menyatakan bahagia ibunya bisa menjalankan usaha lebih baik lagi/Foto: M. Noli Hendra

Hati siapa yang tak pilu, melihat empat orang anak, yang hidup tanpa bimbingan seorang bapak. Hanya usapan dan elusan tangan sang ibu, yang bisa dirasakan sebelum tidur. Kondisi yang sangat berbeda, dengan kehidupan seorang anak di bawah asuhan dua orangtua.  Kasih sayang bisa didapatkan, seperti saat hadirnya musim hujan dan musim panas. Disaat kering membelah tanah, ada hujan yang membahasahi, dan disaat air menggenangi pemukiman penduduk, ada matahari yang menghentikan turunnya hujan.

Lalu, bagaimana dengan anak- anak yang hidup hanya ada kasih sayang sang ibu semata. Tidak kah terlalu berat tanggungjawab hidup sang ibu, yang usianya sudah tidak lagi muda. Jika kering rasa hati menjalani hidup, mampu kah ibu membasahinya. Sungguh, Desi, adalah sosok ibu, yang dengan segala usahanya menjaga dan membesarkan empat orang anaknya.

Desi, yang tinggal di Komplek Jabal Rahmah, RT 003/RW 004, Kelurahan Sungai Sapih, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, memilih berjualan donat untuk menghidupi keempat orang anaknya. Dengan status sebagai tulang punggung keluarga, Desi menjajakan donat ke warung-warung dan kantin-kantin sekolah terdekat. Membuat donat dan menghantarkan ke warung-warung, dianggap tidak mengganggu, dan meninggalkan kewajibannya menjaga dan merawat empat orang anak.

Selama ini, Desi menghantarkan kue donat dengan berjalan kaki dari warung ke warung. Rutinitas itu dilakukan bersama anak terkecil. Kondisi itu membuatnya lelah, dan berharap sebuah kendaraan untuk mempermudah usaha. “Sehari-hari saya ke warung berjalan kaki, dan terkadang bawa anak-anak, karena tidak ada yang menjaga di rumah. Memang ada keinginan punya kendaraan, supaya bisa lebih mempermudah usahanya itu. Alhamdulillah, sekarang ada lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap), yang membantu saya dan telah mewujudkan hal yang sangat saya harapkan,” katanya, Jumat (28/12/2018).

Desi, hanya punya modal untuk memproduksi donat 80 buah. Harga donat satunya, Rp1.000. Dari penjualan yang didapat, penghasilan kotornya sehari Rp80 ribu. Sementara, ada empat orang anak, yang harus dihidupi. Pengeluaran rutin, seperti untuk makan biayanya Rp500.000 per bulan, biaya transportasi anak-anak ke sekolah Rp300.000 per bulan, dan uang jajan anak-anaknya Rp400.000 per bulan. Penghasilan yang dimiliki, tak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga tersebut.

“Saya juga punya hutang peninggalan suami saya dulu, angsuran rumah Rp850.000 per bulan, yang sekarang sudah nunggak hingga delapan bulan, dan sudah di lelang oleh pihak bank. Jadi, semua itu saya, yang mengembannya,” ujarnya.

Kehadiran sepeda yang dimodifikasi sehingga memiliki etalase, Desi benar-benar sangat senang. Dengan sepeda itu, Desi dipermudah menjalankan usaha untuk menafkahi empat orang anak. Setidaknya, langkah Desi untuk menjajakan kue donatnya, bisa mendapatkan warung yang letaknya lebih jauh.

Koordinator Program ACT Sumatera Barat, Aan Saputra, mengatakan, Desi, merupakan seorang penerima manfaat dari program MSR (Mobile Social Rescue) ACT Sumatera Barat. Desi, yang telah lama ditinggal pergi oleh suami, harus memikul beban sendiri mengasuh ke empat buah hatinya.  Aan menyebut, untuk memenuhi kebutuhan hidup, ibu empat orang anak tersebut berjualan donat. Dia menjajakan ke warung dan kantin-kantin sekolah yang dekat dengan rumah. Selama ini, Desi hanya menjual donat untuk dua warung, dan satu sekolah.

Hal itu dikarenakan, hanya ketiga tempat tersebut yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. “Alhamdulillah, atas izin Allah, amanah donatur ACT Sumatera Barat telah diimplementasikan. Brupa modal usaha seperti sepeda etalase dan modal usaha untuk Desi agar mampu mencukupi kebutuhannya dan ke-empat anaknya,” katanya.

ACT Sumbar sangat terimakasih kepada donatur atas bantuan yang diberikan. “Program pemberdayaan ekonomi ibu tangguh ini memang kita peruntukan untuk ibu-ibu yang tangguh dan terus berjuang untuk menghidupi kelaurga. Kita berharap, program ini, mampu mengurangi penderitaan anak-anak yang hanya bersumber kebutuhan dari ibu, sang tulang punggung tunggal untuk anak-anaknya. Program ini juga bagian dari program Mobile Sosial Rescue (MSR) Aksi Cepat Tanggap (ACT)” ujar Aan.

Baca Juga
Lihat juga...