Di 2019, Pertamina Tambah Titik SPBU Satu Harga di Kalbar

157
Ilustrasi SPBU - Foto Dokumentasi CDN

PONTIANAK – PT Pertamina (Persero), di 2019 akan membangun kembali dua unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Satu Harga, di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

“Untuk 2019, kembali dibangun delapan unit SPBU yang menjual BBM Satu Harga, dua unit diantaranya di Kalbar, lima unit lima di Kalimantan Tengah, dan satu unit di Kalimantan Utara,” kata Manager Komunikasi dan CSR Pertamina Regional Kalimantan, Yudi Nugraha, Senin (3/12/2018).

Tercatat, hingga saat ini sudah ada 27 SPBU Satu Harga, yang sudah beroperasi. Keberadaanya tersebar di lima provinsi di Kalimantan. Data Pertamina mencatat, satu titik SPBU Satu Harga diluncurkan di 2016, 10 titik di 2017, dan 16 titik di 2018. Keberadaanya tersebar, enam titik di Kalimantan Tengah, tujuh titik di Kalimantan Utara, tujuh di Kalbar, dua di Kalimantan Selatan, dan lima titik di Kalimantan Timur atau di lokasi 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di wilayah Kalimantan.

“Sejak 2016, Pertamina di seluruh Indonesia telah mulai menjalankan program pembangunan lembaga penyalur BBM Satu Harga tersebut. Tahap awal, tim terlebih dahulu memetakan titik rencana pembangunan, untuk kemudian dilaksanakan tinjauan, guna melihat kemungkinan dibangunnya lembaga penyalur BBM di lokasi tersebut.

“Pemerintah daerah setempat terlibat aktif dalam memberikan masukan, dalam menentukan titik-titik yang membutuhkan implementasi program pembangunan SPBU, yang menyediakan BBM Satu Harga tersebut,” jelasnya.

Pertamina telah bersama-sama dengan pihak terkait, seperti Kementerian ESDM, BPH Migas, maupun pemerintah daerah setempat, dalam mengembangkan program tersebut sejak 2016. “Walaupun menghadapi banyak tantangan, Alhamdulillah target dari pemerintah dapat kami penuhi,” tandas Yudi.

Di tengah tantangan kondisi geografis dan infrastruktur di Indonesia, program ini menjadi sumbangsih Pertamina dalam pembangunan daerah 3T di Indonesia. Rata-rata penyaluran di berbagai lokasi mulai diangka delapan KL per hari. Produk yang disalurkan bervariasi, diutamakan produk Jenis BBM Tertentu (JBT), dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP).

“Masing-masing lokasi memiliki tantangan yang beragam, sebagai contoh di Krayan, Kalimantan Utara, kami menggunakan empat pergantian jenis moda transportasi, salah satunya menggunakan Pesawat Air Tractor. Ongkos angkut yang harus dibayarkan Pertamina ke Krayan menjadi salah satu yang tertinggi,” katanya.

Diharap, program BBM Satu Harga tersebut memberikan efek jangka panjang, yakni perkembangan ekonomi atau pun infrastruktur di lokasi 3T tersebut. “Kami mohon dukungan agar bisnis Pertamina dapat semakin berkembang, sehingga dukungan kami kepada program BBM Satu Harga dapat semakin baik kami berikan,” pungkas Yudi. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...