Dunia Air Tawar TMII, Lestarikan Ragam Ikan

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Dunia Air Tawar Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah wahana rekreasi yang menampilkan keanekaragaman ikan yang menggemaskan.

Bangunannya didesain menyerupai bentuk fisik ikan pari. Ikan pari dipilih, yakni selain mewakili spesies sesamanya juga bentuk yang unik dan representatif untuk sebuah bangunan besar Dunia Air Tawar, dalam pelestarian hayati alam.

Pengunjung juga merasa berada di lautan lepas. Manakala pandangan mata diarahkan pada sisi kanan-kiri dermaga yang berupa danau besar, tempat ikan-ikan air tawar hidup dengan nyaman.

Ruangannya pun didesain dengan berbagai bentuk akuarium sesuai habitat. Koleksi ikannya ada 6.000 ekor lebih, dan 150 spesies dari berbagai perairan Indonesia maupun dunia.

Ketika memasuki ke dalam, mata pengunjung langsung tertuju pada lorong kaca. Yakni sebuah akuarium berbentuk lorong tempat sejumlah ikan raksasa dipamerkan. Di antaranya ikan arwana golden, bawal aprilia, baung jaksa, lele ekor merah dan ikan tapah.

“Subhanallah kuasa Allah SWT, ikannya unik, lucu dan besar-besar, lincah lagi. Itu ikan baung jaksa dan ikan bawal, besar banget. Gemes lihatnya,” kata Syifanida, salah satu pengunjung Dunia Air Tawar TMII, kepada Cendana News, Senin (10/12/2018).

Marketing Dunia Air Tawar TMII, Krisrama, mengatakan, wahana rekreasi ini sebagai wahana biota air tawar terlengkap dan terbesar di Indonesia bahkan di dunia.

Manajer Dunia Air Tawar TMII, Krisrama. – Foto: Sri Sugiarti

Koleksi ikannya, jelas dia, ada 160 spesies, terdiri atas berbagai jenis, dan ukuran. Asalnya dari berbagai perairan baik di Indonesia maupun belahan dunia. Juga meliput tanaman air, reptilia, crustacean dan ikan.

“Koleksi ikan ada 160 spesies, dengan jumlah 6.000 lebih ikan. Dunia Air Tawar ini menjadi wahana konservasi alam, rekreasi, edukasi dan penelitian,” ujar Kris, demikian panggilannya, kepada Cendana News.

Ragam spesies ikan itu ditampilkan dalam 128 akuarium berukuran besar dan kecil dengan interior yang indah. Dilengkapi juga dengan 6 kolam budidaya, kolam payau, kolam konservasi dan lainnya.

Dunia Air Tawar terletak di sebelah selatan kawasan TMII, diapit oleh Museum Serangga dan Taman Legenda Keong Emas. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas 5.500 meter persegi di tepi danau buatan, yang menyatu dan membentuk lingkaran air tawar.

Dibangun sejak tahun 1992, dan diresmikan oleh Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada 20 April 1994.

“Dunia Air Tawar ini dibangun atas ide dan gagasan Ibu Tien Soeharto yang ingin melestarikan kekayaan habitat alam yaitu ragam ikan nusantara agar dikenal masyarakat luas. Saat diresmikan oleh Pak Harto, namanya Aquarium Air Tawar, lalu diganti jadi Dunia Air Tawar,” jelasnya.

Menurutnya, dalam ide cemerlang Ibu Tien membangun TMII, tidaklah hanya untuk pelestarian budaya daerah saja. Tetapi berkembang upaya untuk pelestarian flora dan fauna khas Indonesia.

“Ibu Tien berpikir ke depan bagaimana ikan asli Indonesia dijaga dan dilestarikan, anak, cucu sebagai generasi penerus bisa mengenalnya. Maka ditampilkan Dunia Air Tawar ini,” ujarnya.

Pengunjung sedang melihat ragam jenis ikan raksasa di lorong kaca di dalam gedung Dunia Air Tawar TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Selain menjadi tempat rekreasi keluarga, pengunjung juga dapat menambah ilmu dengan mengenal kekayaan biota air tawar.

Tingkah polah makhluk berinsang di dalam aquarium itu terlihat sangat lucu. Seperti ikan buntal yang menggelembung seperti balon dan ikan hantu yang mengendap-endap layaknya hantu.

Adapun koleksi ikan lainnya asli Indonesia, seperti ikan Seluang dari Sumatera Selatan, ikan Kaca dari Jawa Barat, dan ikan Puitus dari Bali. Ragam jenis asli Indonesia itu ditampilkan di aquarium Nusantara.

Menurutnya, sesuai dengan misi dan visi, diharapkan pengunjung yang datang ke Dunia Air Tawar bisa mengetahui bahwa Indonesia memiliki kekayaan ikan air tawar.

Tampil juga ikan belahan dunia yang mempesona, yaitu arapiama dan piranha atau serresaimus, ikan pari, ikan hantu, ikan duyung dan lainnya.

Jenis ikan dari sungai Yangtze China juga menghiasi Dunia Air Tawar, yaitu ikan kupu-kupu, ikan chinese high fin atau myxocyprinus asiaticus asiaticu). Sekelompok ikan kecil guppy, molly, dan platy juga sangat lincah menghiasi ruangan itu.

Penampilan fisik ikan dengan warna-warni indah tubuhnya dan sirip menawan, membuat pengunjung betah berlama-lama di ruangan itu.

Dalam Dunia Air Tawar ini juga terdapat Theater 4 Dimensi yang menampilkan beragam film seru dan menegangkan. Saat menyaksikan film itu, setiap penonton akan diberikan kacamata 4 dimensi yang berukuran cukup besar.

Pengunjung juga bisa merasa sensasi gigitan ikan-ikan kecil dengan merendamkan kakinya ke dalam bak air berukuran 12 meter persegi.

“Gigitannya tidak terasa sakit, cuma geli dan seperti disetrum. Ya, efek gigitan ikan ini membantu pengelupasan kulit mati. Kulit akan menjadi bersih dan halus,” jelas pria kelahiran 37 tahun, tersebut.

Tersaji juga kolam jamah, dimana pengunjung bisa memegang langsung koleksi ikan yang ada di kolam itu.

Dunia Air Tawar juga dilengkapi dengan perpustakaan, auditorium, pojok reptilia, dan ruang karantina yang dibangun di belakang gedung.

Ruang karantina ini untuk mengembangkan koleksi dan menampung hasil dari petani yang dapat dipasarkan pada pengunjung. Terdapat juga laboratorium, mini raiser dan green house.

Mini raiser adalah tempat benih-benih ikan dibesarkan dalam akuarium ukuran mini. Seperti ikan arwana dibesarkan dengan ekosistem. Adapun green house adalah fasilitas rumah pelatihan.

Menurutnya, dengan edukasi dan konservasi, pengunjung akan mendapatkan pemahaman tentang ikan-ikan khas Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. Tentu juga tidak boleh dimanfaatkan secara berlebihan, tapi ikan-ikan itu harus dibudidayakan sesuai aturan.

Jadi, tegas dia, fungsi Dunia Air Tawar ini tidak hanya sebagai wahana rekreasi. Tapi juga sebagai lembaga konservasi dan juga untuk budidaya.

Menurutnya, banyak pelajar dan mahasiswa yang melakukan penelitian di sini dalam upaya pelestarian dan pengembangan bisnis ikan hias.

“Ada program Trampit (Terampil Budidaya Ikan Tawar). Ini khusus anak sekolah. Program ini mengajarkan anak mencintai ikan, memelihara ikan dan mengetahui ikan langka yang harus dilindungi. Ada juga Jasa Pelayanan Entamologi (Japen), program ini untuk mahasiswa,” tandasnya.

Bagi pehobi ikan atau sekadar ingin melihat ragam jenis ikan, pengunjung TMII bisa datang ke Dunia Air Tawar, dengan cukup merogoh uang sebesar Rp 30.000.

Lihat juga...