Edukasi Tanaman Kultur Jaringan di Mekarsari

Editor: Satmoko Budi Santoso

BOGOR – Perbanyakan tanaman melalui sistem kultur jaringan memiliki persentase keberhasilan yang lebih besar dalam menghasilkan tanaman baru dengan waktu relatif singkat. Contohnya adalah perbanyakan tanaman kelapa sawit dan tebu.

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Taman Buah Mekarsari, Junaedi, menjelaskan, bahwa teknik kultur jaringan sebenarnya sangat sederhana. Yaitu suatu sel atau irisan jaringan tanaman yang disebut eksplan secara aseptik, diletakkan dan dipelihara dalam medium padat atau cair yang cocok dan dalam keadaan steril.

“Nanti akan terbentuk tanaman kecil yang lengkap. Dengan teknik ini, dengan hanya satu irisan kecil dari jaringan tanaman akan dapat dihasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak,” kata Junaedi kepada Cendana News, Sabtu (29/12/2018).

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Taman Buah Mekarsari Junaedi – Foto Ranny Supusepa

Keunggulan lainnya dari sistem kultur jaringan adalah tanaman baru yang diperoleh akan mempunyai sifat fisiologi dan morfologi yang sama persis dengan tanaman induknya.

“Kita juga bisa mendapatkan tanaman baru yang bersifat unggul dengan sistem kultur jaringan ini,” tambah Junaedi.

Diakui oleh Junaedi bahwa sistem kultur jaringan memang membutuhkan ketelitian, alat-alat khusus dan tempat khusus. Sehingga jarang dari para petani yang mau melakukannya.

Untuk kepentingan edukasi, Taman Buah Mekarsari sengaja mengadakan laboratorium kultur jaringan. Masyarakat maupun anak sekolah dapat mempelajari sistem kultur jaringan. Pada displai Mekarsari sendiri, ada beberapa tanaman yang dapat dikembangkan dengan sistem kultur jaringan. Misalnya nanas, buah naga, anggrek, manggis dan bunga bangkai.

“Ini khusus untuk edukasi bagi anak sekolah maupun masyarakat yang tertarik dengan sistem kultur jaringan. Disini, akan bisa mencoba bagaimana melakukan proses kultur jaringan mulai dari pengambilan jaringan hingga peletakan dalam ruang kaca,” urai Junaedi seraya menunjukkan ruang kultur jaringan dan semua peralatan yang dibutuhkan dalam proses pengembangbiakan dengan kultur jaringan.

Junaedi menjelaskan jaringan yang diambil dari tanaman akan diletakkan dalam botol yang berisi media tanam.

“Media tanam yang digunakan di Mekarsari adalah agar-agar yang sudah ditambah dengan pupuk mikro dan makro. Fungsi agar-agar ini adalah untuk menahan amarah tanaman tidak tumpah dan sekaligus sebagai media untuk tumbuh akar,” ujarnya.

Agar-agar yang sudah matang akan dimasukkan ke dalam botol tanam lalu dimasukkan dalam tabung steril untuk dipanaskan dengan suhu 120 derajat selama 20 menit.

“Kita buat steril supaya tidak ada mikrobiologi maupun bakteri yang ada dalam media tanam. Setelah itu kita akan masukkan potongan jaringan, lalu botolnya kita tutup. Botol yang sudah ditutup akan diletakkan dalam ruang kaca yang sudah dipasangi lampu LED.

Pemasangan lampu ini adalah sebagai pengganti cahaya matahari. Karena tanaman membutuhkan sinar gamma selama 24 jam. “Nah LED ini memiliki pancaran sinar gamma yang kita gunakan untuk menggantikan cahaya matahari,” pungkas Junaedi.

Lihat juga...