hut

Empat Peneliti Ciptakan Alat Detektor Puting Beliung dan Tanah Longsor

Editor: Koko Triarko

JEMBER – Kabupaten Jember kerap dilanda bencana, seperti puting beliung dan tanah longsor. Untuk mengantisipasi dua bencana alam tersebut, empat peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Jember, menciptakan alat detektor puting beliung dan longsor, yang dipasang  di beberapa kawasan rawan bencana. Empat peneliti itu, yakni Januar Fery Irawan, Satrio Budi Utomo, FX. Kristianta dan Ike Fibriani.

Januar Fery Irawan, selaku ketua tim,  mengatakan, detektor angin puting beliung dipasang di Desa Karangrejo, Kecamatan Sumbersari sebanyak dua unit, dan satu alat di Dusun Gempal, Desa Pakusari, Kecamatan Pakusari. Sementara alat detektor longsor dipasang di Desa Suci, Kecamatan Panti, dan Desa Pace, Kecamatan Silo.

Menurut Januar Fery Irawan, detektor angin puting beliung yang diciptakannya bekerja dengan cara mengukur kecepatan angin yang datang.

Januar Fery Irawan (kiri), menjelaskan kegunaan detektor angin puting beliung di Desa Karangrejo. -Foto: Kusbandono

“Kami menempatkan animometer analog, yang fungsinya mengukur kecepatan angin. Jika kecepatan angin mencapai 35 kilometer per jam, maka otomatis sensor akan mendeteksi sebagai gejala angin puting beliung dan memerintahkan sirine, agar berbunyi,” jelas Januar Fery Irawan, yang juga dosen program studi teknik sipil yang akrab dipanggil Januar, Rabu (12/12/2018).

Menurutnya, sirine akan berbunyi selama kurang lebih sepuluh hingga lima belas menit, guna memperingatkan warga sekitar, sehingga memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.

“Untuk diketahui, proses terbentuknya angin puting beliung atau angin ribut, didahului oleh angin yang kecepatannya bertambah secara bertahap,” katanya.

Penempatan detektor angin puting beliung di lokasi Desa Karangrejo, Kecamatan Sumbersari dan Dusun Gempal, Kecamatan Pakusari, berdasarkan riwayat terjadinya bencana sebelumnya.

Menurut Januar, daerah Karangrejo ini pada 2017, pernah dilanda angin puting beliung hingga merobohkan pohon-pohon besar di tepi jalan. Padahal, di sekitarnya terdapat sekolah dan merupakan jalan yang menjadi urat nadi transportasi di wilayah ini. Untungnya, puting beliung yang terjadi tidak meminta korban jiwa.

“Karena itu, kami berinisiatif menempatkan dua detektor di pinggir jalan dan di sekitar perumahan warga. Harapannya, jika terjadi angin puting beliung, warga sekitar bisa bersiap-siap agar tak ada korban jiwa, apalagi suara sirine bisa menjangkau wilayah seluas satu kilometer,” kata Januar, yang menyelesaikan magisternya di Hokkaido University, Jepang.

Detektor angin puting beliung di Desa Karangrejo sudah terpasang semenjak setahun lalu.

​Kisah serupa disampaikan oleh Mahfud, Ketua RT 02, RW 12, Dusun Gempal, Desa Pakusari. Pada 2017, katanya, terjadi bencana puting beliung, satu gudang dan 11 rumah rata dengan tanah, satu warga meninggal dunia, dan puluhan menderita luka-luka.

“Karena itu, kami berterima kasih dengan adanya detektor angin puting beliung, yang membuat kami mendapatkan peringatan dini jika ada angin puting beliung yang datang,” tutur Mahfud.

Detektor angin puting beliung karya empat dosen Fakultas Teknik ini ditempatkan di halaman Masjid Baitur Ridho, yang juga sekaligus menjadi titik kumpul warga, jika ada bencana alam. Untuk detektor angin puting beliung di Dusun Gempal, baru terpasang sejak Oktober 2018.

​Sementara itu, alat detektor longsor cara kerjanya hampir mirip dengan detektor angin puting beliung. Bedanya, sensor ditanam di dalam tanah, sehingga bisa mendeteksi gerakan tanah yang terjadi.

“Sensor yang kami tanam mampu mendeteksi gerakan tanah hingga pergeseran lima milimeter. Jika terjadi gerakan tanah selama satu menit, maka sensor akan memerintahkan sirine untuk berbunyi. Sehingga masih ada waktu bagi warga untuk menyelematkan diri,” ungkap Satrio Budi Utomo, yang turut mendampingi Januar.

Pemasangan detektor longsor di Desa Suci, Kecamatan Panti dan Desa Pace, Kecamatan Silo, dilakukan sejak setahun lalu, mengingat kedua daerah tersebut termasuk daerah rawan longsor.

Tim Fakultas Teknik juga bekerja sama dengan Pusat Lingkungan dan Kebencanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, untuk memberikan sosialisasi mitigasi bencana di tiap lokasi detektor ditempatkan.

​Rencananya, Januar dan tim ingin mengembangkan detektor tidak hanya untuk deteksi dini bencana angin puting beliung dan longsor, namun juga untuk deteksi dini bencana lainnya.

“Tahun depan, kami berencana bekerja sama dengan Taman Nasional Meru Betiri, untuk menciptakan detektor kebakaran lahan, sementara untuk kawasan pantai Puger, kami ingin membuat detektor gelombang tinggi, harapannya meminimalkan korban jiwa para nelayan Puger,” katanya.

Tiga detektor angin puting beliung dan dua detektor longsor, selanjutnya dihibahkan kepada masyarakat sekitar. “Kami berharap, agar alat detektor tersebut dijaga dengan baik, sehingga dapat bekerja dengan maksimal dan meminimalkan korban jiwa,” pungkas Januar.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com