Fasum Bagi Disabilitas Masih Butuh Pembenahan

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Kebebasan para penyandang disabilitas untuk melakukan mobilitas perjalanan, masih belum mendapatkan kemudahan. Masih banyak lokasi dan fasilitas umum, yang belum mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Pengamat Perhubungan, Okke Permadhi, menyatakan, perkembangan fasilitas umum bagi penyandang disabilitas, beberapa tahun belakangan sudah cukup baik. Namun, masih membutuhkan perbaikan. “Pemerintah daerah kota dan kabupaten, sudah sangat intens menyediakan fasilitas tersebut, contohnya jalur tuna netra di ruang pejalan kaki. Namun demikian, masih perlu perkuatan di sisi pelaksanaan. Sering ditemukan, hasil pelaksanaan pengerjaan di lapangan yang justru membahayakan bagi para penyandang disabilitas,” kata Okke, Minggu (9/12/2018).

Kondisi tersebut misalnya, adanya jalur yang terputus karena hambatan pohon atau saluran air. Terputusnya jalur kursi roda, akibat tidak atau kurang terintegrasi antara satu ruas dengan ruas lainnya. “Implementasi di lapangan perlu diperkuat dengan memberikan edukasi kepada para pelaksana konstruksi. Jangan sampai karena ada paket atau kontrak pekerjaan konstruksi yang berbeda, antara satu kontraktor dengan kontraktor lainnya, menimbulkan kesalahan pembangunan. Kedepannya hal ini bisa diatasi secara otomatis bila para pelaksana konstruksi sudah memahami dengan benar kebutuhan penyandang disabilitas,” tutur Okke.

Di sektor perhubungan udara, beberapa Bandar Udara (Bandara) yang dibangun sudah dilengkapi fasilitas disabilitas. Ramp-way untuk kursi roda, elevator penghubung antar lantai khusus untuk difable, serta jalur tuna netra, sudah direncanakan dengan baik. “Satu hal yang masih menjadi catatan adalah proses naik-turun penumpang bila tidak menggunakan garbarata. Pengguna kursi roda masih perlu ditolong secara manual untuk naik-turun tangga pesawat,” ujar Okke.

Di sektor perhubungan laut, fasilitas untuk para penyandang disabilitas secara umum sudah tersedia di terminal penumpang. Hanya saja, keberadaanya masih minim, terutama di fasilitas naik-turun kapal. Belum tersedia tangga kapal yang mendukung pergerakan difable. “Ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi para stake-holder sektor ini, mengingat porsi transportasi laut sangat besar di negara kepulauan,” tegas Okke.

Kepala Suku Dinas Sosial Pemkot Jakarta Pusat, Prayitno, menyatakan, Pemprov DKI Jakarta, berupaya menjadikan fasilitas umum yang ada di gedung pemerintahan dan perkantoran, ramah kepada penyandang disabilitas. “Tahun ini, sesuai dengan arahan gubernur, kami berupaya untuk menyediakan fasilitas yang ramah bagi para penyandang disabilitas. Bahkan, waktu itu saya mengundang komunitas disabilitas untuk menilai langsung, mana fasilitas yang sudah memadai bagi pergerakan mereka dan mana yang belum,” tuturnya, dalam acara Walk + Roll 4 Difable di Kawasan Monas Jakarta.

Prayitno menilai, peran media dan masyarakat, untuk membantu pemprov meningkatkan fasilitas bagi penyandang disabilitas sangat penting. “Kalau ada yang memberikan kritik atas suatu fasilitas, itu akan lebih enak. Jadi kami bisa langsung menindaklanjutinya. Kami selalu membuka diri untuk hal-hal seperti ini,” ujarnya.

Menyoroti fasilitas umum yang disediakan pemerintah, Founder Saraswati Learning Center, Reshma Wijaya Bhojwani, menyatakan, bahwa efek penyelenggaraan Asian Para Games yang baru digelar di Jakarta beberapa waktu lalu, masih terasa. “Jujur memang saat itu, jalan dan lift-nya belum memadai. Tapi saya melihat inisiatif dari Pemprov DKI Jakarta itu sudah ada, untuk memberikan pelayanan. Hanya dalam implementasinya masih membutuhkan pendalaman lagi. Dan juga sosialisasi tentang fasilitas juga belum disampaikan kepada masyarakat umum, terutama bagi komunitas,” tuturnya.

Lihat juga...