Gajah Liar Ditemukan Mati di Aceh Karena Infeksi

Ilustrasi gajah - Dok CDN

BANDA ACEH – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyebut, seekot gajah jantan liar, yang ditemukan mati pada 27 Desember lalu, diduga mati karena mengalami infeksi.

“Diagnosa awal penyebab kematian hasil nekropsi tim dokter, karena infeksi sekunder dari luka yang diderita, baik luka terbuka maupun fraktur di kaki belakang kiri,” ungkap Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, Jumat (28/12/2018).

Sapto Aji menyebut, kepastian penyebab kematian akan didapat dari uji laboratorium forensik. Pengujian dilakukan terhadap sampel organ dalam, dan sisa makan yang diambil di organ limpa, usus, dan paru dari bangkai gajah tersebut. “Gajah yang ditemukan mati ini pernah diobati tim dokter BKSDA Aceh dan FKH Unsyiah, karena menderita luka di selakangan dan bawah ekor. Luka sebagai akibat perkelahian dengan gajah liar lain,” ungkap Sapto.

Sebelumnya, seekor gajah jantan liar ditemukan mati di kawasan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Gajah tersebut ditemukan, pada 27 Desember 2018 sekira pukul 17.30 WIB. Gajah jantan liar itu diberi nama si Bongkok, karena sebelumnya pernah diobati tim dokter BKSDA Aceh dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Si Bongkok diperkirakan mati sudah lebih dari 15 hari. Sementara saat ditemukan, gading-nya sudah hilang sama sekali tanpa sisa. Fakta tersebut menganulir informasi sebelumnya, yang disebut gading hilang karena dipatahkan. Menyangkut tidak ada lagi gading gajah tersebut, Sapto Aji mengatakan, pengambilan gading seperti yang terjadi kepada si Bongkok, hanya mungkin dilakukan terhadap bangkai yang sudah membusuk.

“Hanya dengan menggoyang dan menarik dari tengkorak, gading bisa terlepas. Diduga ini dilakukan orang yang melintas dekat bangkai gajah,” pungkas Sapto Aji. (Ant)

Lihat juga...