Gren Mahe, Objek Wisata Budaya di Sikka

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Ritual adat dan budaya, yang dimiliki lima etnis besar di Kabupaten Sikka, Tidung Bajo, Lio, Sikka Krowe, Palue dan Tana Ai, hendaknya dilestarikan. Aktivitasnya bisa menjadi aset wisata adat dan budaya.

Rafael raga, sesepuh dan tokoh masyarakat etnis Tana Ai di kabupaten Sikka yang selalu menjaga tradisi. Foto : Ebed de Rosary

“Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, hendaknya menjadikan semua, ritual adat dari berbagai etnis sebagai aset wisata budaya,” sebut Rafael Raga, salah satu sesepuh dan tokoh etnis Tana Ai, Minggu (9/12/2018).

Rafael menyebut, budaya dapat memperkuat pariwisata. Budaya dan falsafah hidup yang terus dipertahankan, dapat mendekatkan manusia dengan sang pencipta. Dan budaya bisa menjadi sebuah komoditas yang memiliki nilai jual. “Dengan mengangkat dan mengemasnya menjadi sebuah wisata, akan memiliki nilai jual. Ada nilai positif, yang dikandung di dalamnya. Pertama, budaya kita bisa dikenal oleh orang lain di luar komunitas, dan budaya kita bisa semakin dilestarikan,” tandasnya.

Ada berbagai ritual adat di Sikka, seperti di Kelimutu Kabupaten Ende, yang saat ini telah memiliki nilai jual bagi wisatawan termasuk wisatawan asing. Namun, agenda ritual adat waktunya harus terjadwal secara pasti, dan telah ditetapkan minimal sejak setahun sebelumnya.

Ketua ASITA kabupaten Sikka, Konradus Rindu, mengaku baru pertama kali menyaksikan ritual adat Gren Mahe di etnis Tana Ai. Dirinya berharap, ritual adat tersebut bisa digelar secara rutin. “Ini sebuah ritual adat besar dan sangat menarik, sehingga ritual adat ini bisa dipromosikan menjadi salah satu aset wisata budaya. Pemerintah perlu mendorong ritual adat seperti ini agar bisa dikemas jadi aset wisata budaya dan bernilai jual,” pesannya.

Hery Ajo, Ketua Badan Promosi Pariwisata Kabupaten Sikka mengatakan, sebagai badan yang belum setahun didirikan, pihaknya ingin mendata semua ritual adat yang ada di Sikka. Keberadaanya bisa dimanfaatkan untuk wisata budaya. “Kita ingin agar pariwisata budaya lebih dikedepankan, mengingat Kabupaten Sikka memiliki berbagai aset budaya. Kami akan mendatanya dan membahasnya bersama pemerintah, agar ritual adat bisa jadi salah satu obyek wisata budaya,” tandasnya.

Hery meminta, masyarakat adat tetap mempertahankan keaslian tradisi warisan leluhur. Hal itu penting, karena wisatawan terutama wisatawan asing, sangat tertarik menyaksikan atraksi adat dan budaya tradisional. “Mimpi kita, wisata budaya di Kabupaten Sikka, harus memiliki nilai jual wisata di daerah ini. Ini merupakan kekhasan yang tidak bisa ditemukan dimanapun, sehingga memantik wisatawan berkunjung ke sini,” pungkasnya.

Lihat juga...