Gren Mahe, Ucapan Syukur Etnis Tana Ai Mahe Kringa

Editor: Koko Triarko

243
MAUMERE – Empat suku yang mendiami Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, sejak Jumat (30/11) hingga Sabtu (1/12) menggelar ritual adat Gren Mahe, yang kembali dilaksanakan sejak lima tahun sebelumnya.
“Ritual adat Gren Mahe ini diadakan di Mahe Kringa, yang terdiri dari empat suku, yakni suku Kringa, Liwu, Lewar dan Aur. Ritual dilaksanakan di Mahe, tempat pemujaan dan pelaksaan ritual adat,” sebut Laurensius Rogan Liwu Tana Puan, atau kepala suku etnis Tana Ai Kringa, Minggu (2/12/2018).
Rensu, sapaan Tana Puan ini, menyebutkan, Gren Mahe merupakan sebuah ritual untuk menghormati wujud tertinggi (Amapu), leluhur dan alam. Gren Mahe dilaksanakan selama tiga, lima, tujuh atau sembilan tahun sekali, yang penting angkanya ganjil.
“Suku Kringa berperan sebagai Tuan Tana atau Tana Puan, suku Liwu Watu Miring dan suku Lewar memiliki peran Leba Bako Wara Wair memberi makan minum bagi peserta yang hadir saat acara adat Gren Mahe,” tuturnya.
Suku Lewar juga berperan sebagai Tabak Waning, membuat gendang yang dipergunakan saat ritual adat, dan selesai ritual disimpan di Lepo atau rumah yang ada di Mahe. Sedangkan suku Aur berperan sebagai Tuku Wutur Raka Bai, perintis jalan.
Tana Puan atau Kepala Suku Etnis Tana Ai Mahe Kringa, Laurensius Rogan Liwu (kedua kiri), bersama tetua adat etnis Tana Ai Mahe, Boganatar dan Hikong, serta warga suku Mahe Kringa. -Foto: Ebed de Rosary
“Mahe Kringa ini selalu berpindah hingga menetap di tempat sekarang, sebab mencari tempat yang baik untuk mengadakan ritual adat dan memberikan persembahan kepada para leluhur,” tuturnya.
Rofinus Dolo, tetua masyarakat  Kringa, menjelaskan, Gren Mahe bermakna membangun keharmonisan hubungan dan ada ucapan rasa syukur serta permohonan dalam ritual ini.
“Dalam ritual Gren Mahe, maknanya membangun keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan wujud tertinggi atau Sang Pencipta Langit dan Bumi,” terangnya.
Dalam ritual adat Gren Mahe, juga dilakukan pemotongan hewan kurban untuk memberikan persembahan kepada wujud tertinggi, leluhur dan alam. Ada lima korban pokok dalam ritual ini, untuk Mahe Kringa empat suku masing-masing satu hewan korban.
“Sementara ada hewan kurban lainnya dari Me Pu, orang yang menikah dengan warga suku etnis Tana Ai Kringa serta dari setiap orang yang melanggar adat sebelumnya, yang diwajibkan  membawa hewan kurban sebagai silih dosa atau penebusan salah atau dosa,” ucapnya.
Ritual adat pada Jumat (30/11) dimulai dengan mengarak hewan kurban dari rumah kepala suku di wilayah timur, menuju ke arah barat tempat Mahe berada sejauh sekitar 400 meter.
Ritual dimulai sekitar pukul 18.15 WITA melalui jalan raya hingga memasuki areal Mahe Kringa, tempat dilaksanakannya ritual adat yang berada di sebuah tanah lapang.
Tampak dua buah pondok berdiri di tempat ini berupa rumah panggung berdinding bambu belah dan beratap ilalang.
Semua anak suku, baik laki-laki maupun perempuan, terlihat hadir dan mengikuti ritual ini dengan mengenakan busana adat kain tenun.
Tampak juga para remaja dan anak-anak hadir dan mengikuti ritual secara khusuk, dengan duduk di bangku dari bambu yang dibuat di pinggir Mahe.
Baca Juga
Lihat juga...