Hadapi Revolusi Industri, Kemenristekdikti Tingkatkan Mutu Politeknik

Editor: Satmoko Budi Santoso

196

MALANG – Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Polytechnic Education Development Project (PEDP), terus berupaya meningkatkan kualitas mutu pendidikan politeknik untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0 berbasis teknologi digital. Khususnya yang terkait dengan ekonomi kreatif.

Demi mencapai tujuan tersebut, PEDP melakukan upaya penyempurnaan kurikulum yang mengacu pada kerangka kualifikasi nasional Indonesia dan standar internasional.

“Prosesnya dimulai dari studi pelacakan, penentuan profil lulusan, penetapan bahan kajian, penyusunan distribusi mata kuliah dan penyusunan perangkat pembelajaran serta instrumen evaluasi,” jelas Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti, Dr. Ir. Parisyanti Nurwardani, MP, saat menghadiri pembukaan Polytexpo di Politeknik Negeri Malang (Polinema), Senin (3/12/2018).

Disampaikan Parisyanti, program PEDP didukung penuh oleh Asian Development Bank (ADB) dan pemerintah Kanada melalui pemberian bantuan berupa pinjaman lunak dan dana hibah.

“Kita mendapatkan bantuan berupa pinjaman lunak dari ADB sebanyak Rp1,2 triliun yang dibagikan kepada 20 Politeknik selama lima tahun,” sebutnya. Kemudian, lanjutnya, juga mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah Kanada sebanyak Rp60 miliar.

Menurutnya, hibah dari pemerintah Kanada telah dimanfaatkan untuk berbagai macam program yang berhubungan dengan soft skill. Seperti pelatihan-pelatihan tim manajemen politeknik maupun mahasiswa serta sertifikasi-sertifikasi. Karena politeknik diharapkan bisa menjadi center of excellent untuk kegiatan yang bisa memberikan sertifikat internasional.

“Yang paling banyak sekarang ini adalah sertifikat internasional untuk teman-teman dari Politeknik Negeri Bandung, Politeknik Negeri Malang dan Politeknik Negeri Batam,” ujarnya.

Politeknik yang telah disebutkan, sudah bisa memberikan pelatihan kepada seseorang, baik mahasiswa maupun orang luar untuk bisa mendapatkan sertifikat dengan standar internasional. Sehingga jika lulus sertifikat tersebut, bukan hanya bisa bekerja di Indonesia tapi bisa bekerja di seluruh dunia.

Pinjaman lunak dari ADB sendiri digunakan untuk membeli peralatan terbaru untuk 20 politeknik.

“Saya yakin, 20 politeknik yang menjadi percontohan tersebut, akan menjadi tempat pelatihan bagi politeknik lain yang ingin lebih maju di masa yang mendatang. Karena saat ini, kita benar-benar fokus menyiapkan politeknik agar siap menghadapi revolusi industri 4.0,” ungkapnya.

Suasana peluncuran buku Reformasi Politeknik P.A.S.T.I Hebat – Foto Agus Nurchaliq

Lebih lanjut, Parisyanti menyebutkan, pada 25 November lalu, Presiden Jokowi mengatakan, bahwa di tahun 2019, Indonesia akan fokus pada Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu dengan cara mengembangkan atau memodifikasi sistem pendidikan. Salah satunya melakukan revitalisasi untuk bidang politeknik dan vokasi.

“Maka Presiden saat ini sangat fokus untuk meningkatkan kapasitas politeknik dan vokasi di beberapa perguruan tinggi yang ada di Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam acara tersebut, juga dilakukan peluncuran buku Reformasi Politeknik P.A.S.T.I Hebat.

Baca Juga
Lihat juga...