Harga GKP Petani di Lamsel Stabil

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Harga Gabah Kering Panen (GKP) petani di Kabupaten Lampung Selatan masih stabil di Rp4.700 per kilogram (kg). Harga tersebut diakui sejumlah petani cukup menguntungkan, dibandingkan kondisi di musim panen sebelumnya. Pasalnya, meski kualitas padi yang dihasilkan selama musim penghujan berkadar air tinggi, harga GKP tidak turun.

Suwito, salah satu petani padi Muncul Cilamaya di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas menyebut, sempat khawatir dengan harga gabah hasil panenannya. Sebagian besar padi di Kecamatan sudah memasuki panen terakhir masa tanam ketiga (MT3). Panen bersamaan dengan hujan. Tidak dimilikinya alat pengering, membuat pengeringan gabah terhambat.

“Kualitas gabah yang dihasilkan juga berkurang, karena sebagian terendam air banjir, namun pengepul atau pembeli gabah umumnya memiliki mesin modern untuk pengeringan gabah, sehingga saya pilih menjual hasil panen tanpa harus menjemur,” terang Suwito, Minggu (16/12/2018).

Suwito menyebut dengan harga Rp4.700 per kg, sudah cukup menguntungkan bagi petani. Pada musim sebelumnya, harga GKP hanya Rp4.500. Saat gabah sudah menjadi beras di tingkat penggilingan, beras dijual Rp7.500 hingga Rp8.500 sesuai kualitas. Pengeringan manual dengan sinar matahari, di musim hujan, membuat kualitas gabah tidak sempurna. Bercak hitam pada gabah membuat gabah mudah hancur saat digiling menjadi beras.

Setelah panen, direncanakan untuk Masa Tanam Satu (MT1) akan dimulai dengan pengolahan lahan pada akhir Desember. Masa penanaman ditargetkan dimulai pada pertengahan Januari awal tahun mendatang.

Sawah siap panen di Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Sutikno, petani lain menyebut, menjual gabah seusai panen, karena tidak mau direpotkan dengan proses penjemuran. Kualitas beras yang dihasilkan akan menurun jika gabah dijemur dalam kondisi hujan turun terus menerus.

“Sepanjang bulan Desember hujan turun setiap hari mempersulit proses pengeringan sehingga saya memilih menjualnya,” beber Sutikno.

Penjualan dilakukan langsung di sawah, seusai alat pemanen jenis combine harvester memanen gabah. Gabah yang sudah dipanen, dibeli pembeli gabah lokal setelah ada aturan larangan penjualan gabah keluar daerah. Aturan tersebut diantaranya Peraturan Gubernur (Pergub) Lampung No.71/2017, tentang pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian distribusi gabah dan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Lampung No.7, tentang pengelolaan distribusi gabah.

Karena aturan tersebut, saat ini pembeli gabah dari provinsi Banten dan Sumatera Selatan sudah jarang datang ke petani. Aturan yang melarang penjualan gabah keluar Lampung, membuat ketersediaan gabah di Lampung terpenuhi. Kebijakan tersebut, membantu mengendalikan persaingan diantara pemilik usaha jual beli gabah, yang selama ini terjadi antara pengusaha lokal dan luar Lampung.

Lihat juga...