Harga Sayur Mayur di Lampung Selatan Naik

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Jelang Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, sejumlah komoditas sayur di Lampung Selatan mengalami kenaikan harga. Kenaikan dirasakan terjadi di pasar tradisional.

Kenaikan harga tersebut, memberi keuntungan bagi petani di daerah tersebut. Lasmi, petani sayur jenis tomat, kacang panjang dan cabai merah, di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan mengaku, harga sayur meningkat jelang Natal dan Tahun Baru.

Lasmi,salah satu petani tomat di Desa Karang Anyar Kecamatan Penengahan Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Lasmi, yang menanam 2.500 batang tomat menyebut, harga di tingkat petani cukup menjanjikan. Pada panen musim tanam sebelumnya, harga tomat di angka Rp1.000 perkilogram. Namun, harga di panen saat ini, mencapai Rp3.500 perkilogram. Buah tomat dipanen setiap empat hari sekali. Lasmi bisa mendapatkan hasil panen empat kuintal. Tomat yang dipanen selanjutnya diambil pengepul, untuk dikirim ke sejumlah pasar tradisional di Lampung dan Banten.

Berdasarkan pengalaman, sekali proses penanaman bisa mendapatkan hasil sekira empat ton. Jika rata-rata harga tomat Rp3.500 perkilogram, maka dalam satu kali proses penanaman memperoleh hasil sekira Rp14 juta. “Penanaman tomat pada masa tanam ketiga bertepatan dengan permintaan yang melonjak, sekaligus harga yang bagus. Bisa dipergunakan untuk modal menanam lagi pada masa tanam berikutnya,” terang Lasmi saat ditemui Cendana News, Sabtu (15/12/2018).

Selain tomat yang harganya sedang cukup bagus, harga cabai merah dan kacang panjang juga cukup berpihak pada petani. Jenis sayur kacang panjang, sebelumnya hanya dijual dengan harga Rp1.500 perikat. Kini naik menjadi Rp2.500 perikat. Harga cabai merah perkilogram semula Rp30.000 naik menjadi Rp35.000 perkilogram.

Faktor permintaan yang cukup tinggi, dan petani yang gagal panen akibat hujan dan banjir, membuat harga menjadi meningkat. Petani sayuran lain, Sutirman, menyebut, kenaikan harga sayur cukup menguntungkan petani. Sayur yang ditanamnya di area perbukitan, berdekatan dengan sungai Way Pisang, membuatnya bisa mendapatkan air dengan mudah.

Lahan miliknya tidak terimbas banjir selama musim penghujan. Meski demikian hujan, di sejumlah lahan pertanian membuat petani sayuran lain mengalami gagal panen. “Pasokan sayuran yang berkurang dari wilayah lain bisa kami penuhi, sehingga harga mulai membaik di level petani,” beber Sutirman.

Sutirman menanam jagung manis, gambas, cipir serta cabai merah. Sayuran tersebut di tingkat petani sudah mengalami kenaikan antara Rp2.000 hingga Rp7.000 perkilogram.

Endang, salah satu pedagang sayur di pasar tradisional Pasuruan menyebut, kenaikan harga sayur dipengaruhi beberapa faktor. Hujan yang melanda sebagian wilayah dan berimbas banjir, membuat pasokan menjadi terhambat. Selain itu juga dipengaruhi oleh permintaan yang tinggi. Endang menyebut komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya kentang, bawang merah, kol, cabai merah, wortel. Harga komoditas tersebut mengalami kenaikan cukup tinggi dibanding pekan sebelumnya.

Kentang yang biasanya dijual Rp12.000 perkilogram naik menjadi Rp14.000. Cabai merah semula dihargai Rp33.000 naik menjadi Rp35.000 perkilogram, kol semula Rp8.000 menjadi Rp9.000 perkilogram, dan wortel dari semula Rp8.000 menjadi Rp12.000 perkilogram. “Sejumlah komoditas yang naik dipasok dari luar daerah, sehingga terpengaruh biaya distribusi. Hujan deras membuat sejumlah akses jalan terimbas banjir membuat pasokan tersendat sehingga mempengaruhi harga jual,” pungkas Endang.

Lihat juga...