hut

Harga Telur di Manokwari Tembus Rp100 Ribu Per Rak

MANOKWARI  – Dua hari menjelang Hari Raya Natal 2018 harga telur ayam ras di sejumlah pasar di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat, tembus hingga Rp.100 ribu/rak berisi 30 butir.

Mursidin, seorang warga, Minggu, mengaku kesulitan memperoleh telur. Selain mahal, komoditas yang satu ini sudah langka di pasar.

“Orang sudah kalang kabut, sudah susah dapat telur. Hanya ada beberapa pedagang dan itu pun jual dengan harga dua kali lipat dari biasanya,” kata dia.

Harga telur mengalami kenaikan drastis menjelang Hari Raya Natal 2018. Pada waktu normal, harga telur ras berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu/rak.

Telur ras yang didatangkan pedagang dari Surabaya kosong di pasaran. Saat ini yang ada hanya telur dari peternak lokal.

Gejala kelangkaan telur di daerah tersebut sudah terasa sejak beberapa waktu lalu. Pada inspeksi mendadak yang dilaksanakan Polda Papua Barat dan Dinas Perindustrian  Perdagangan pekan lalu, sejumlah pedagang menyebut stok telur sudah mulai menipis.

Hal itu terjadi lantaran, kapal pengangkut dari Surabaya masih tertahan di Pelabuhan Makassar. Kapal diperkirakan baru tiba di Manokwari antara Selasa atau Rabu 25-26 Desember 2018.

Pemerintah Provinsi Papua Barat sudah berupaya membangun komunikasi dengan pihak otoritas pelabuhan, Pelindo dan PT Pelni.

“Keterangan para pedagang seperti itu, tapi kami akan mencoba berkoordinasi juga dengan PT Pelni dan PT Pelindo serta perusahaan jasa pelayaran lainnya. Mudah-mudahan kapal datang sebelum tanggal 25,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua Barat, George Yarangga, Minggu.

Ia mengutarakan kelangkaan telur pernah terjadi pada Natal tahun 2017. Kapal pengangkut telur yang seharusnya tiba lebih cepat, terlambat karena kapal dari Surabaya harus putar arah menuju Nabire.

Kelangkaan telur yang ini cukup berdampak terhadap masyarakat yang saat ini sedang persiapan merayakan Natal. Warga yang hendak membuat kue Natal terpaksa batal dan harus membeli kue jadi.

Dampak cukup siginifikan pun dialami para pelaku usaha makanan, seperti nasi goreng, martabak, serta rumah makan lainnya. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!