Hidroponik Apung, Solusi Makin Sempitnya Lahan Pertanian

Editor: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Kabupaten Jember memiliki lahan berupa rawa yang terkonsentrasi di Desa Gumukmas, Kecamatan Gumukmas. Sayangnya, selama ini lahan rawa tersebut hanya dapat dimanfaatkan oleh petani setempat di masa kemarau saja, di saat air menyusut.

Sementara di musin hujan di kala air menggenangi rawa, petani tidak bisa memanfaatkannya. Melihat kondisi ini, tiga peneliti Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jember, yang terdiri dari Sukron Romadhona, T. Sutikto, dan Joko Sudibya, berinisiatif mengembangkan pembuatan rakit apung hidroponik. Dengan rakit apung hidroponik ini, maka petani setempat tetap dapat memanfaatkan lahan rawa selama musim penghujan.

Saat Cendana News menemuinya di Kampus Fakultas Pertanian, Selasa (11/12/2018), Sukron Romadhona, menjelaskan, rakit apung hidroponik yang mereka ciptakan sebenarnya merupakan modifikasi dari cara bercocok tanam hidroponik yang sudah ada.

Sukron Romadhona. Foto: Kusbandono

“Hanya saja kami praktikkan di lahan rawa yang luas dan memiliki karakteristik tersendiri. Jika biasanya bercocok tanam hidroponik memakai net pot yang ditaruh di meja khusus, maka kami ganti dengan paralon dengan alat pengapung.

Harapannya jika di musim kemarau rawa yang ada dipakai bertani cabai, maka di musin penghujan dapat ditanami sayur mayur seperti selada, pok choy dan lainnya. Petani Gumukmas pun memiliki alternatif lahan bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan rawa yang ada,” jelas Sukron.

Alat yang dikembangkan ketiga dosen tersebut tergolong sederhana sehingga mudah dirakit oleh para petani. Menggunakan paralon sebagai kerangka, dan botol plastik bekas air mineral yang mudah diperoleh sebagai landasan agar kerangka tetap mengapung.

Sementara untuk menyalurkan nutrisi ke net pot maka digunakan kain flanel bekas. “Dalam hitungan kami, satu perangkat rakit apung menghabiskan dana sekitar empat ratus ribu, bahkan jika kerangka paralon diganti dengan bambu, maka ongkosnya lebih murah lagi,” lanjut Sukron.

Alat rakit apung hidroponik ciptaan mereka sudah diujicobakan di hadapan para petani anggota kelompok tani Pulorejo, santri Pondok Pesantren Samratul Afkar, dan perangkat Desa Gumukmas di balai desa setempat.

Untuk pertama kali ini, Sukron Romadhona dan kawan-kawan mempraktikkan cara bercocok tanam di rawa dengan rakit apung hidroponik. Ada 78 lubang yang ditanami selada, di lahan rawa seluas 100 x 50 meter persegi, dari luas total rawa di Desa Gumukmas yang mencapai 25 hektare.

Dalam jangka waktu 30 hingga 35 hari ke depan, para petani dapat panen selada hingga 10 kilogram. Diharapkan, para petani anggota kelompok tani Pulorejo dan santri Pondok Pesantren Samratul Afkar dapat mempraktikkan bercocok tanam di rawa dengan rakit apung hidroponik.

“Sengaja kami menanam sayur yang masa tanamnya pendek, menyesuaikan dengan durasi musim penghujan. Kami juga berencana di tahun depan akan mencoba memadukan rakit apung hidroponik dengan ternak ikan, agar penghasilan yang didapat oleh petani makin besar,” imbuh Sukron yang meraih magister di bidang ilmu lingkungan.

Namun Sukron mengingatkan, lahan rawa di Gumukmas memiliki karakteristik tersendiri, jadi memerlukan penanganan khusus pula.

“Dari penelitian yang sudah dilakukan, lahan rawa di Desa Gumukmas ternyata tergolong lahan gambut muda. Kadar keasamannya rendah sekali yakni hanya 250 ppm saja, padahal agar tanaman dapat berkembang dengan maksimal, maka memerlukan kadar keasaman antara 650 ppm hingga 690 ppm. Untuk menangani masalah ini kami menggunakan pupuk NPK,” ujarnya lagi.

 

Lihat juga...