ISPI: 30 Persen Kebutuhan Daging Sapi Masih Harus Impor

Editor: Koko Triarko

Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU. -Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Sektor peternakan sebagai penghasil pangan berkualitas, dinilai sangat penting untuk terus dikembangkan, dalam upaya mendukung kemandirian pangan asal ternak di Indonesia. 

Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., menyebutkan, daging, susu dan telur merupakan pangan berkualitas yang sangat penting untuk mendukung kesehatan sumberdaya manusia (SDM) Indonesia.

“Jika masyarakat kekurangan asupan sumber protein hewani seperti daging, telur maupun susu, akan sangat berbahaya bagi masa depan anak-anak kita nantinya. Karena akibat dari kekurangan protein tersebut, bisa menyebabkan seorang anak menjadi stunting, otaknya kurang berkembang, sehingga bisa menurunkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia,” ucapnya, usai menghadiri acara pembukaan Seminar Nasional dan Kongres ISPI XII di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Kamis (6/12/2018).

Disampaikan Ali, kebutuhan daging, telur dan susu antara produksi dalam negeri dengan yang dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia belum sepenuhnya tercukupi. Bahkan, dari waktu ke waktu diduga permintaan akan semakin meningkat, sehingga ada jarak yang lebar antara supply dan demand.

Demand semakin meningkat, karena jumlah penduduk semakin meningkat, dan daya beli juga meningkat. Ditambah lagi, sekarang ini pola konsumsi anak muda lebih suka mengkonsumsi susu segar dan berbagai olahan daging,” sebutnya.

Menurutnya, jika berbicara tentang kebutuhan daging sapi, di Indonesia baru bisa memenuhi antara 65-70 persen. Sehingga kekurangan 30-35 persen tersebut mau tidak mau harus dipenuhi melalui impor. Tapi, kalau berbicara mengenai telur, di Indonesia sudah bisa mencukupinya.

“Kendalanya, kalau kita makan daging sapi, kita harus memotong sapi. Untuk memotong sapi agar layak dipotong dan dagingnya cukup, setidaknya harus sapi yang berumur dua tahun. Sehingga proses menghasilkan daging sapi itu membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya mahal. Ketika mahal, berarti tidak kompetitif, jika dibandingkan dengan negara lain,” terangnya.

Hal itulah, katanya, salah satu peran dari sarjana peternakan untuk turut membantu meningkatkan produksi dan produktivitas peternakan penghasil pangan asal ternak.

Lebih lanjut, disampaikan Ali, dalam kongres ISPI XII tersebut dihadiri pengurus cabang ikatan ISPI seluruh Indonesia dan mitra strategis.

Lihat juga...