ISPI: 30 Persen Kebutuhan Daging Sapi Masih Harus Impor

Editor: Koko Triarko

255
Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU. -Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Sektor peternakan sebagai penghasil pangan berkualitas, dinilai sangat penting untuk terus dikembangkan, dalam upaya mendukung kemandirian pangan asal ternak di Indonesia. 

Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., menyebutkan, daging, susu dan telur merupakan pangan berkualitas yang sangat penting untuk mendukung kesehatan sumberdaya manusia (SDM) Indonesia.

“Jika masyarakat kekurangan asupan sumber protein hewani seperti daging, telur maupun susu, akan sangat berbahaya bagi masa depan anak-anak kita nantinya. Karena akibat dari kekurangan protein tersebut, bisa menyebabkan seorang anak menjadi stunting, otaknya kurang berkembang, sehingga bisa menurunkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia,” ucapnya, usai menghadiri acara pembukaan Seminar Nasional dan Kongres ISPI XII di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Kamis (6/12/2018).

Disampaikan Ali, kebutuhan daging, telur dan susu antara produksi dalam negeri dengan yang dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Indonesia belum sepenuhnya tercukupi. Bahkan, dari waktu ke waktu diduga permintaan akan semakin meningkat, sehingga ada jarak yang lebar antara supply dan demand.

Demand semakin meningkat, karena jumlah penduduk semakin meningkat, dan daya beli juga meningkat. Ditambah lagi, sekarang ini pola konsumsi anak muda lebih suka mengkonsumsi susu segar dan berbagai olahan daging,” sebutnya.

Menurutnya, jika berbicara tentang kebutuhan daging sapi, di Indonesia baru bisa memenuhi antara 65-70 persen. Sehingga kekurangan 30-35 persen tersebut mau tidak mau harus dipenuhi melalui impor. Tapi, kalau berbicara mengenai telur, di Indonesia sudah bisa mencukupinya.

“Kendalanya, kalau kita makan daging sapi, kita harus memotong sapi. Untuk memotong sapi agar layak dipotong dan dagingnya cukup, setidaknya harus sapi yang berumur dua tahun. Sehingga proses menghasilkan daging sapi itu membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya mahal. Ketika mahal, berarti tidak kompetitif, jika dibandingkan dengan negara lain,” terangnya.

Hal itulah, katanya, salah satu peran dari sarjana peternakan untuk turut membantu meningkatkan produksi dan produktivitas peternakan penghasil pangan asal ternak.

Lebih lanjut, disampaikan Ali, dalam kongres ISPI XII tersebut dihadiri pengurus cabang ikatan ISPI seluruh Indonesia dan mitra strategis.

Dalam kongres, secara paralel akan diadakan forum diskusi untuk membahas secara spesifik dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah, apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pelaku usaha, industri besar dan menengah, maupun peternak rakyat serta masyarakat secara umum.

“Ini sebagai upaya kepedulian dan keberpihakan kita dalam mendukung kemandirian, bahkan kedaulatan pangan,” akunya.

Ia mengakui, cita-cita untuk bisa mencapai swasembada pangan tidak bisa dicapai dalam waktu singkat, pasti ada rencana, target,  usaha dan dukungan.

Semua harus bersinergi dan memberikan dukungan, mulai dari dukungan SDM yang menjadi peran ISPI, dukungan finasial dari lembaga keuangan, serta dukungan kebijakan yang merupakan peran dari pemerintah.

“Saya kira, pemerintah sudah berusaha dan punya langkah-langkah, tapi memang tidak bisa instan. Namun yang terpenting harus konsisten dan fokus, yang saat ini masih menjadi PR bagi kita semua,” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, A.R.MS., dalam sambutannya menyampaikan, bahwa ke depan tantangan di sektor peternakan akan semakin kompleks. Tidak hanya sebagai penyedia pangan berkualitas, tetapi juga sebagai hiburan.

“Tidak boleh dilupakan, ke depan sektor peternakan tidak hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Tetapi, juga berorientasi untuk hiburan. Contohnya, beternak kucing, burung, maupun anjing yang kini banyak digemari masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, UB akan sangat senang sekali jika nantinya dalam kongres tersebut bisa menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang riil untuk pengembangan dunia peternakan.

Baca Juga
Lihat juga...