Istana Anak-anak Indonesia TMII, Wujudkan Cinta Budaya Bangsa

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Istana Anak-Anak Indonesia (IAAI), wahana rekreasi yang paling difavoritkan keluarga saat berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Dari mulai gerbang masuk, pengunjung terlihat antre memasuki area IAAI. Di halaman istana, mereka mengabadikan momen liburan, berfoto dengan latar belakang bangunan istana berbentuk mirip sebuah dongeng Cinderella. Mereka berpose bersama keluarga dan juga dengan boneka seni berkostum kelinci.

Di halaman depan, tersaji arena permainan, seperti rumah bola, kereta api kelinci, gua sigura-gura, jungkat-jungkit, pesawat capung, giring ombak, roda tamasya, kincir angin, monorail, dan lainnya.

Sejumlah orangtua terlihat beristirahat sambil menikmati makanan, sembari menunggu anaknya bermain.

“Kalau ke TMII, anak saya, senangnya bermain di istana anak. Itu dia lagi naik pesawat capung, setelah sebelumnya main di rumah bola,” ujar Nindi Afifah kepada Cendana News, Sabtu (29/12/2018).

Warga Cimanggis, Depok, Jawa Barat ini mengaku, istana anak ini tempat bermain yang sarat edukasi bagi anak-anak. Karena disajikan berbagai hiburan menarik seni budaya daerah.

“Istana anak nggak pernah sepi, selalu ada tampil tarian daerah dan lagu daerah. Apalagi liburan sekolah , ragam seni tiap hari ditampilkan di panggung kancil. Anak saya terhibur dan tahu budaya,” ujarnya.

Kepala Bidang Program dan Pendidikan IAAI TMII, Suntoro, mengatakan, pihaknya turut memeriahkan libur Natal, sekolah dan tahun baru 2019 dengan ragam seni budaya daerah.

Kepala Bidang Program dan Pendidikan IAAI TMII, Suntoro. Foto : Sri Sugiarti

Dia menjelaskan, sejarah pembangunan istana anak ini dilandasi pemikiran cemerlang Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto. Beliau berpikir, bahwa pendidikan anak untuk menyongsong masa depan sangat penting. Begitu juga sarana bermain sangat penting bagi tumbuh kembang anak.

“Ibu Tien, membangun istana anak ini punya tujuan dari rasa yang mendalam seorang Ibu Negara, melihat jauh ke depan bagaimana anak Indonesia, nantinya berkepribadian mencintai tanah air,” ujarnya.

Tentu menanamkan mencintai tanah air, dalam benak Ibu Tien, adalah dengan pengembangan bakat dan kreativitas anak-anak melalui kegiatan seni budaya dan pelestariannya.

“Misi istana anak ini dibangun sebagai sarana belajar dan bermain bagi anak-anak. Ibu Tien, memberi kesempatan anak-anak mengembangkan bakat dan kreativitas, baik di bidang seni budaya, IPTEK dan sosial. Agar nanti dewasa, tidak lari dari bingkai kepribadian bangsa Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, jelas dia, istana ini dilengkapi sarana belajar. Antara lain, alat peraga ilmu pengetahuan dan teknologi, alat musik diatonik dan pentatonik, medan permainan sehat dan mendidik, serta alat peraga lainnya.

Tersedia juga program kesenian untuk memperluas wawasan dan keterampilan anak. Program ini meliputi permainan, kesenian, ilmu dan kegiatan lainnya. Bagi anak-anak yang berminat untuk mendalami seni tari, musik, karawitan dan dalang, mereka dapat berlatih di diklat seni IAAI TMII.

“Istana anak ini wahana rekreasi dan edukasi. Ada pelestarian budaya, anak bisa belajar tari daerah, tari kreasi dalang, dan karawitan di diklat seni IAAI. Mereka nanti pentaskan di panggung kancil,” tandasnya.

Kembali Suntoro menjelaskan tentang ide cemerlang Ibu Tien membangun istana anak. Desain bangunan utama istana anak, dinamai Graha Widya Tama, terdiri dari empat lantai dengan ruang terbuka di lantai dua.

Bangunan ini memiliki dua sayap dan menara menjulang tinggi ke angkasa, melambangkan kebersamaan anak laki-laki dan perempuan dalam menggapai prestasi setinggi langit.

Kedua menara tersebut juga melambangkan peran orang tua, yang selalu siap menjaga, membimbing, mengasuh, dan mengawasi semua kegiatan anaknya.

“Arsitektur berbentuk istana ini menggambarkan anak-anak sebagai raja dan ratu di istana tersebut. Ini ide cemerlang Ibu Tien, yang jauh berpikir ke depan untuk membingkai anak-anak bangsa cinta budaya dan tanah air,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, memasuki pintu masuk IAAI, pengunjung disambut dengan Plaza Gajah. Ini merupakan medan terbuka dengan buah patung gajah. Di area ini, pengunjung bisa bermain dan bergembira sepuasnya sebagai pengejawantahan kehidupan anak sehari-hari.

Pengunjung sedang melihat lukisan karya anak-anak Indonesia di Graha Seni Atmaja, IAAI TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Di dalam gedung istana, terdapat juga Graha Seni Atmaja. Ini merupakan pusat seni dan budaya anak-anak. Yakni berupa seni lukis, seni kriya, seni drama, seni tari, seni suara dan perpustakaan.

Di halaman belakang terdapat teater terbuka yaitu panggung kancil. Panggung ini digunakan sebagai tempat pentas anak-anak yang mengikuti diklat kesenian dan kebudayaan yang ada di IAAI.

Panggung ini juga biasa digunakan untuk pentas hiburan seni budaya mengisi waktu liburan anak dan keluarga.

Anak-anak sedang berenang di SS Water Park yang ada di area IAAI TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Selain itu, di halaman ini juga terdapat area permainan terbuka, jalanan alami yang jarang ditemukan di lingkungan rumah kita. Terdapat juga kolam renang Sendang Sejodo (SS) water park, yang mengusung air terjun dan laut.

“IAAI TMII yang dibangun di atas lahan 35.225 hektar ini diresmikan oleh Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada 20 April 1986,” ujarnya.

Sebagai wahana rekreasi dan edukasi, menurutnya, pihaknya berkomitmen untuk menyajikan program-program pendidikan seni budaya dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi anak-anak.

Dalam pelestarian budaya bangsa, IAAI juga mendukung program pemerintah dalam bidang pariwisata, khususnya. Terbukti IAAI, setiap harinya selalu dipadati pengunjung.

“Kami juga dukung program pemerintah yang menargetkan kunjungan wisatawan 20 juta,” ujarnya.

Bagi Anda yang ingin berlibur ke IAAI, cukup merogoh uang Rp 10.000, bisa leluasa bermain di area edukasi anak-anak ini.

Lihat juga...